Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Ekbis · 2 Mar 2026 14:37 WIB ·

Diversifikasi Pasokan: Indonesia Gandeng AS untuk Impor Energi, Tak Ada Penambahan Kuota


Diversifikasi Pasokan: Indonesia Gandeng AS untuk Impor Energi, Tak Ada Penambahan Kuota Perbesar

JAKARTA | TR.CO.ID

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa perjanjian perdagangan antara Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat tidak akan menambah kuota impor energi nasional.

“Untuk kebutuhan LPG kita setiap tahun sebesar 8,3 juta ton, sementara produksi nasional kita 1,6 juta sehingga per tahun kita mengimpor 7 juta ton. Yang kedua BBM dan ketiga crude (minyak mentah), inilah yang kita konsensuskan kemarin di Amerika untuk belanja 15 miliar dolar AS,” ujar Bahlil, dikutip dari laman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, diakses dari Jakarta, Senin.

Menurut Bahlil, kesepakatan dagang tersebut hanya mengalihkan sumber impor dari negara lain ke Amerika Serikat, tanpa menambah total volume impor energi nasional. Ia menegaskan, kebutuhan energi Indonesia, khususnya Liquified Petroleum Gas (LPG), bahan bakar minyak (BBM), dan minyak mentah, memang masih ditopang oleh impor karena produksi dalam negeri belum mampu mencukupi kebutuhan.
Namun demikian, ia memastikan bahwa perjanjian dengan Amerika Serikat tidak akan meningkatkan total impor, melainkan sekadar memindahkan asal negara pemasoknya.

Bahlil juga menegaskan bahwa harga pembelian tiga komoditas energi tersebut tetap mengikuti mekanisme pasar internasional. Bahkan, untuk LPG, harga dari Amerika Serikat disebut lebih kompetitif dibandingkan negara lain.

“Harga impor ketiga produk senilai 15 miliar dolar AS dari Amerika tersebut sama dengan harga pasar. Jadi tidak ada perbedaan apakah dari Timur Tengah atau dari Amerika. Itu harganya sama, bahkan justru untuk LPG dari Amerika jauh lebih murah ketimbang dari negara-negara yang lain,” katanya.

Pemerintah, lanjut Bahlil, tetap berkomitmen menjaga ketahanan energi nasional sekaligus memastikan kebijakan impor dilakukan secara efisien dan transparan.(hmi)

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Prestasi Gemilang, PERUMDAM TKR Raih TOP BUMD Awards.

16 April 2026 - 12:01 WIB

Cara Negara Memperkaya Oligarki Sawit Lewat Alokasi Volume Biodiesel B50

15 April 2026 - 13:02 WIB

Sertijab Pejabat Polres Nias, Kabag SDM Kini Dijabat AKP Sonahami Lase

15 April 2026 - 12:59 WIB

Pupuk Kaltim Sahkan PKB 2026–2028, Menaker Beri Apresiasi

15 April 2026 - 12:56 WIB

Kenaikan Harga Plastik Bikin Pedagang Kecil Menjerit

13 April 2026 - 13:40 WIB

Kementerian ESDM : Pengembangan Blok Masela untuk Melindungi Kedaulatan Ekonomi Indonesia

13 April 2026 - 13:10 WIB

Trending di Ekbis