Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Ekbis · 4 Mar 2026 14:16 WIB ·

Ekonomi Indonesia di Ujung Tanduk? Efek Perang AS-Iran Bisa Picu Kenaikan Harga BBM


Ekonomi Indonesia di Ujung Tanduk? Efek Perang AS-Iran Bisa Picu Kenaikan Harga BBM Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Eskalasi konflik di Timur Tengah antara Israel, Amerika Serikat (AS) terhadap Iran menimbulkan kekhawatiran yang sangat serius bagi dunia, terutama stabilitas ekonomi Indonesia.

Kondisi tersebut tentunya menjadi perhatian pengamat ekonomi dari Universitas Trisakti, Willy Arafah mengatakan, konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memberikan tekanan signifikan bagi ekonomi Indonesia melalui beberapa saluran utama yang saling berkaitan.

“Ketegangan ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia yang mengancam stabilitas APBN akibat membengkaknya beban subsidi energi, serta berisiko memicu kenaikan harga BBM domestik,” kata Willy kepada Harian Merdeka, Rabu (4/3/2026).

Di sisi lain, kata Willy ketidakpastian geopolitik mendorong investor menarik modal ke aset yang lebih aman, sehingga mengakibatkan pelemahan nilai tukar Rupiah dan memaksa Bank Indonesia mempertahankan suku bunga tinggi.

” Dampak kumulatif dari kenaikan biaya logistik global, harga barang impor yang mahal, dan tingginya bunga kredit pada akhirnya akan memicu inflasi yang berpotensi menggerus daya beli masyarakat dan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Willy.

Guru Besar Fakultas Manajemen USAKTI ini menjelaskan bahwa durasi dampak konflik ini sangat bergantung pada skala eskalasi, jika ketegangan meluas hingga menyebabkan perang terbuka atau penutupan jalur perdagangan vital seperti Selat Hormuz, maka dampaknya akan bersifat jangka panjang karena pemulihan rantai pasok dan stabilitas harga energi global membutuhkan waktu yang lama.

“Meskipun konflik fisik mereda, ekonomi Indonesia biasanya akan mengalami jeda waktu (time lag) dalam pemulihan, karena menurunkan tingkat inflasi dan suku bunga tinggi tidak bisa dilakukan secara instan,” jelasnya.

Sebaliknya, jika konflik bersifat sporadis dan berhasil diredam melalui diplomasi dalam waktu singkat, guncangan terhadap pasar keuangan dan nilai tukar biasanya hanya bersifat jangka pendek dan akan segera stabil kembali mengikuti sentimen pasar

“Ya, konflik ini sangat berpengaruh terhadap hasil dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) karena Iran merupakan salah satu produsen minyak mentah terbesar dunia dan pengendali Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global,” bebernya.

Menurut dia, ketegangan tersebut akan memicu lonjakan harga minyak mentah dunia akibat kekhawatiran gangguan pasokan, yang berdampak langsung pada Indonesia sebagai negara importir minyak (net oil importer).

“Kondisi ini menyebabkan biaya pengadaan BBM membengkak, sehingga pemerintah harus menanggung beban subsidi yang lebih besar dalam APBN atau terpaksa menyesuaikan harga BBM domestik jika tekanan fiskal sudah tidak terbendung,” pungkasnya.

Dia menambahkan bahwa Indonesia perlu melakukan pembenahan struktural dengan mempercepat kemandirian energi melalui transisi ke energi terbarukan dan bahan bakar nabati guna mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah.

Selain itu, pemerintah harus memperkuat stabilitas moneter melalui penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional serta memperdalam pasar keuangan domestik agar tidak rentan terhadap pelarian modal asing.

” Langkah ini dibarengi dengan penguatan hilirisasi industri dan kemandirian pangan untuk membangun ketahanan rantai pasok dalam negeri, sehingga ekonomi nasional tetap tangguh meskipun terjadi gejolak geopolitik dan kenaikan biaya logistik global,” terangnya. (Agus).

Artikel ini telah dibaca 15 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Manajemen Baru Pelindo Hasilkan Kepuasan Pelanggan Pelindo

30 April 2026 - 20:08 WIB

Produksi Solid Kuartal I 2026, PKT Catat Capaian 2,14 Juta Ton

29 April 2026 - 16:50 WIB

Forum Pemred Multimedia dan MitMe.id Jalin Kerjasama Strategis Monetisasi dan Penguatan Brand Media Nasional dan Daerah

28 April 2026 - 13:22 WIB

Pemerintah Genjot Digitalisasi Koperasi Desa

27 April 2026 - 13:33 WIB

Lurah Dedi : Koperasi Merah Putih Jurangmangun Barat Bangkitkan Ekonomi Masyarakat

24 April 2026 - 13:42 WIB

DJP Gencar Kejar Pajak di Sektor Digital, Jam Tangan hingga Rumah Mewah

21 April 2026 - 17:11 WIB

Trending di Ekbis