JAKARTA | Harian Merdeka
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Menurut Airlangga, dampak tersebut terutama disebabkan terganggunya pasokan minyak global akibat penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu pintu utama distribusi minyak dunia.
“Penutupan jalur penting itu otomatis akan mendorong harga minyak mentah global. Kalau harga minyak dunia naik, tentu akan berimbas pada harga energi, termasuk BBM di Indonesia,” kata Airlangga saat ditemui di kantornya di Jakarta, Senin (2/3).
Ia mencontohkan situasi serupa saat terjadi perang di Ukraina, di mana lonjakan harga minyak dunia turut memengaruhi harga energi di berbagai negara. “Otomatis (BBM) akan naik, sama seperti saat perang Ukraina, kan naik. Tetapi, kali ini suplai dari Amerika juga akan meningkat, dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya,” ujarnya.
Meski demikian, Airlangga menilai tekanan kenaikan harga masih dapat tertahan. Hal itu karena pasokan minyak dari AS dilaporkan meningkat, sementara Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) turut menambah kapasitas produksi guna menjaga stabilitas pasar.
Pemerintah, lanjutnya, telah mengantisipasi potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah dengan menjalin nota kesepahaman (MoU) untuk memperoleh suplai minyak dari luar kawasan tersebut. Diversifikasi sumber pasokan dinilai penting untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Salah satu langkah konkret dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) yang menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan energi asal AS. Beberapa di antaranya adalah Chevron Corporation dan ExxonMobil.
“Pemerintah sudah punya MoU untuk mendapatkan suplai dari non-Middle East. Misalnya, kemarin Pertamina sudah bikin MoU dengan Amerika, beberapa dengan Chevron, dengan Exxon, dan yang lain-lain,” kata Airlangga.
Sebelumnya, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dilaporkan menutup Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah pada Sabtu (28/2/2026), sehingga memicu kekhawatiran pasar terhadap kelancaran distribusi minyak global.(fin/hmi)







