Menu

Mode Gelap
Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi Isra Miraj Jadi Momentum Pertobatan Ekoteologis, Menag Ajak Umat Berhenti Merusak Alam

Ekbis · 2 Mar 2026 15:10 WIB ·

Ekonomi RI Terancam, Airlangga Hartarto Pantau Potensi Kenaikan BBM Akibat Perang di Timur Tengah


Ekonomi RI Terancam, Airlangga Hartarto Pantau Potensi Kenaikan BBM Akibat Perang di Timur Tengah Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.

Menurut Airlangga, dampak tersebut terutama disebabkan terganggunya pasokan minyak global akibat penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu pintu utama distribusi minyak dunia.
“Penutupan jalur penting itu otomatis akan mendorong harga minyak mentah global. Kalau harga minyak dunia naik, tentu akan berimbas pada harga energi, termasuk BBM di Indonesia,” kata Airlangga saat ditemui di kantornya di Jakarta, Senin (2/3).

Ia mencontohkan situasi serupa saat terjadi perang di Ukraina, di mana lonjakan harga minyak dunia turut memengaruhi harga energi di berbagai negara. “Otomatis (BBM) akan naik, sama seperti saat perang Ukraina, kan naik. Tetapi, kali ini suplai dari Amerika juga akan meningkat, dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya,” ujarnya.

Meski demikian, Airlangga menilai tekanan kenaikan harga masih dapat tertahan. Hal itu karena pasokan minyak dari AS dilaporkan meningkat, sementara Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) turut menambah kapasitas produksi guna menjaga stabilitas pasar.

Pemerintah, lanjutnya, telah mengantisipasi potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah dengan menjalin nota kesepahaman (MoU) untuk memperoleh suplai minyak dari luar kawasan tersebut. Diversifikasi sumber pasokan dinilai penting untuk menjaga ketahanan energi nasional.

Salah satu langkah konkret dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) yang menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan energi asal AS. Beberapa di antaranya adalah Chevron Corporation dan ExxonMobil.

“Pemerintah sudah punya MoU untuk mendapatkan suplai dari non-Middle East. Misalnya, kemarin Pertamina sudah bikin MoU dengan Amerika, beberapa dengan Chevron, dengan Exxon, dan yang lain-lain,” kata Airlangga.

Sebelumnya, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dilaporkan menutup Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah pada Sabtu (28/2/2026), sehingga memicu kekhawatiran pasar terhadap kelancaran distribusi minyak global.(fin/hmi)

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Darurat Ketahanan Energi: Forsiber Peringatkan Pemerintah Soal Minimnya Persiapan Hadapi Krisis BBM

6 Maret 2026 - 15:47 WIB

Di Balik Rapor Saham Menteri: Mengupas Keterlibatan Maruarar di BOLA hingga Trenggono di Sektor Emas

6 Maret 2026 - 15:44 WIB

Skandal PT ABM: Penerus Banten Tuntut Pertanggungjawaban dan Pembubaran Perusahaan

6 Maret 2026 - 14:08 WIB

Jelang Idulfitri: Presiden Prabowo dan Dasco Fokus Matangkan Strategi Harga Pangan Nasional

5 Maret 2026 - 15:10 WIB

Babak Baru Pengelolaan Aset Negara: BP BUMN Siap Kolaborasi Penuh dengan BPI Danantara

5 Maret 2026 - 15:01 WIB

Alarm bagi APBN: Konflik Timur Tengah dan Urgensi Mandiri Energi di Indonesia

5 Maret 2026 - 14:49 WIB

Trending di Ekbis