JAKARTA | Harian Merdeka
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan awal pekan dengan penguatan signifikan. Pada penutupan perdagangan Senin (29/12), IHSG naik 1,25 persen ke posisi 8.644,26, mencerminkan optimisme investor menjelang akhir tahun.
Penguatan indeks dipicu oleh meningkatnya minat beli investor, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar. Pergerakan positif tersebut berhasil mengimbangi pelemahan yang terjadi pada sejumlah saham lain, sehingga indeks secara keseluruhan tetap berada di zona hijau.
Aktivitas investor asing juga menjadi salah satu faktor pendorong penguatan IHSG. Tercatat, investor asing membukukan beli bersih sekitar Rp1,03 triliun di pasar reguler, sementara secara keseluruhan nilai beli bersih di seluruh pasar mencapai sekitar Rp2,24 triliun. Kondisi ini menunjukkan kepercayaan investor global terhadap pasar saham Indonesia masih terjaga.
Dari sisi sektoral, mayoritas sektor mencatat kinerja positif. Sebanyak 10 dari 11 sektor berakhir di zona penguatan, dengan sektor barang konsumsi siklikal menjadi salah satu penyumbang kenaikan terbesar. Sementara itu, sektor teknologi tercatat sebagai satu-satunya sektor yang mengalami pelemahan pada perdagangan hari tersebut.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh sejumlah aksi korporasi. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) tengah menyiapkan langkah strategis melalui rencana akuisisi saham mayoritas perusahaan tambang, yang dinilai berpotensi memperkuat portofolio bisnis serta kapasitas produksi perseroan di sektor pertambangan batu bara.
Selain itu, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) hingga maksimal 10 persen dari modal disetor. Buyback tersebut akan menggunakan dana kas internal perusahaan dan direncanakan berlangsung mulai 24 Desember 2025 hingga 24 Maret 2026.
Analis pasar modal menilai penguatan IHSG kali ini mencerminkan respons positif pelaku pasar terhadap kombinasi sentimen domestik, arus dana asing, serta aksi korporasi emiten. Meski demikian, investor tetap diminta mencermati potensi volatilitas pada awal tahun mendatang seiring perkembangan kondisi ekonomi global dan domestik.(kay)







