JAKARTA | Harian merdeka
Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi salah satu pemain utama ekonomi digital di Asia Tenggara, ditopang oleh populasi besar, tingkat adopsi teknologi yang tinggi, serta pasar domestik yang terus tumbuh. Namun, potensi tersebut perlu dibarengi dengan kepastian eksekusi kebijakan agar mampu menarik investasi berkelanjutan.
Pandangan tersebut disampaikan Chief Executive Officer (CEO) AdaKami sekaligus Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Luar Negeri Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Bernardino Vega, dalam diskusi panel World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, yang membahas arah dan tantangan transformasi digital Indonesia.
Bernardino menyebut berbagai proyeksi menunjukkan nilai ekonomi digital Indonesia berpeluang tumbuh signifikan dalam beberapa tahun ke depan, seiring meningkatnya pemanfaatan teknologi di berbagai sektor. Saat ini, ekonomi digital Indonesia bahkan disebut sebagai yang terbesar di kawasan ASEAN.
“Ketika kami mempromosikan Indonesia kepada investor, kami selalu berbicara tentang potensi. Saat ini, sektor ekonomi digital Indonesia menjadi yang terbesar di ASEAN. Inilah peluang investasi yang kami maksud,” ujar Bernardino, Sabtu (31/1/2026).
Ia memaparkan sejumlah subsektor yang dinilai memiliki peluang investasi besar, mulai dari e-commerce, kecerdasan buatan (artificial intelligence), hingga teknologi finansial (fintech). Meski kebijakan pendukung sudah tersedia, Bernardino menekankan bahwa tantangan utama justru terletak pada aspek pelaksanaan di lapangan.
“Eksekusi adalah gorila 800 pon di dalam ruangan. Isu besar yang jarang dibicarakan secara terbuka, padahal justru itulah yang perlu dihadapi,” katanya.
Menurut Bernardino, investor pada dasarnya dapat menerima risiko selama risiko tersebut terukur. Namun, ketidakpastian regulasi menjadi faktor utama yang menimbulkan keraguan.
“Pertanyaan utama bagi investor adalah kejelasan regulasi dan, yang lebih penting, bagaimana regulasi tersebut diterapkan. Kerangka kebijakan nasional pada dasarnya sudah tersedia, tantangannya adalah memastikan implementasinya berjalan efektif,” jelasnya.
Untuk mengoptimalkan potensi ekonomi digital, Bernardino menekankan perlunya penguatan dua jenis infrastruktur. Pertama, infrastruktur keras seperti konektivitas, pusat data, pasokan listrik yang andal dan ramah lingkungan, serta ketersediaan air. Kedua, infrastruktur lunak berupa kesiapan teknologi, literasi digital, dan literasi keuangan digital.
Dari sisi industri, ia juga menyoroti pentingnya dialog berkelanjutan antara pelaku usaha dan regulator. Forum diskusi rutin dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menurutnya, menjadi ruang strategis untuk menyelaraskan perkembangan teknologi dengan arah kebijakan.
“Dialog yang berkelanjutan ini memberikan keyakinan kepada investor bahwa Indonesia aktif merespons perkembangan teknologi, mengantisipasi tantangan ke depan, serta terus memperkuat ekosistem investasi digital,” pungkas Bernardino. (rhm)







