JAKARTA | Harian Merdeka
Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) mulai menjajaki peluang kolaborasi dengan Kota Cinema Mall (KCM) guna memperbanyak layar bioskop di wilayah kabupaten dan kota. Pemerintah mendorong langkah ini sebagai bagian dari upaya pemerataan akses tontonan film nasional sekaligus penguatan ekosistem ekonomi kreatif di daerah.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif
membahas secara langsung rencana kolaborasi tersebut saat menerima audiensi perwakilan Kota Cinema Mall di Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif, Jakarta, Selasa (3/2/2026). Dalam pertemuan itu, kedua pihak mendalami peluang kerja sama untuk memperluas jangkauan bioskop hingga ke luar kota-kota besar.
Riefky menegaskan bahwa kolaborasi dengan pelaku usaha bioskop menjadi bagian penting dalam memperkuat industri film nasional dari sisi distribusi dan akses publik.
“Kolaborasi ini menjadi upaya konkret dalam memperkuat rantai nilai ekonomi kreatif dari hulu hingga hilir,” kata Riefky dalam keterangan pers yang diterima Rabu (4/2/2026).
Dalam audiensi tersebut, perwakilan Kota Cinema Mall memaparkan konsep pengembangan bioskop berdiri sendiri yang mengintegrasikan berbagai fasilitas dalam satu kawasan. Konsep tersebut mencakup ruang pemutaran film, area konsesi makanan dan minuman, panggung serbaguna, hingga area luar ruang serta taman bermain.
Model usaha ini dinilai mampu menjawab keterbatasan jumlah layar bioskop di daerah sekaligus menghadirkan nilai tambah bagi pengembangan ekonomi kreatif lokal. Selain berfungsi sebagai sarana hiburan, bioskop dirancang menjadi ruang publik yang hidup dan berdaya guna bagi masyarakat sekitar.
Riefky menilai visi yang diusung Kota Cinema Mall sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya yang dimulai dari daerah.
“Presiden kita memberikan perhatian khusus bagi industri film kita. Beliau ingin akses layar merata agar masyarakat dapat menikmati film-film dengan mudah dan nyaman,” ujar Riefky.
Sementara itu, Direktur Kota Cinema Mall Edy Nugroho menjelaskan bahwa KCM menerapkan pendekatan bisnis yang berbeda dibandingkan jaringan bioskop pada umumnya. KCM memilih mengembangkan bioskop yang berdiri di lokasi tersendiri dan tidak terikat pada pusat perbelanjaan.
Selain itu, KCM juga melibatkan komunitas lokal dalam merancang program dan aktivitas yang berlangsung di kawasan bioskop. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat keterikatan antara bioskop dan masyarakat setempat.
“Konsep tersebut diharapkan mampu menghadirkan ruang publik kreatif yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat menonton, tetapi juga menjadi simpul interaksi komunitas, pertunjukan, dan aktivitas kreatif lokal di daerah,” kata Edy.
Saat ini, Kota Cinema Mall telah beroperasi di tujuh lokasi di berbagai daerah, di antaranya Bekasi, Pamekasan, Tabalong, Gresik, dan Jember. Ke depan, KCM menargetkan perluasan jaringan bioskop ke lebih banyak wilayah kabupaten dan kota dengan menggandeng pemerintah serta pelaku ekonomi kreatif setempat. (con)







