Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Politik · 30 Jan 2026 14:26 WIB ·

LAPD Soroti Dampak Paket UU Politik Tak Dibahas terhadap Pemilu 2029


LAPD Soroti Dampak Paket UU Politik Tak Dibahas terhadap Pemilu 2029 Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Lembaga Advokasi Pembangunan dan Demokrasi (LAPD) menilai bahwa dalam beberapa tahun terakhir, keengganan DPR dan pemerintah untuk membahas dan menyusun paket Undang-Undang (UU) Politik yang komprehensif semakin mengkhawatirkan.

Direktur Eksekutif LAPD, Kaka Suminta mengatakan, paket UU yang seharusnya mencakup UU Partai Politik, UU Pemilu, UU Pilkada, UU Penyelenggara Pemilu dan Pilkada, serta UU MD3, terancam tidak akan terwujud tepat waktu.

*Situasi ini berpotensi menciptakan pemilu yang buruk pada tahun 2029, serta situasi politik lanjutannya yang buruk akibat upaya untuk mempertahankan status quo,” kata Kaka dalam keterangannya,Jumat (30/1/2026).

Kaka menyebutkan, pentingnya regulasi yang jelas dan terintegrasi dalam penyelenggaraan pemilu dan pilkada tidak dapat dipandang sebelah mata. Tanpa adanya UU yang baik, proses pemilu berisiko menjadi tidak transparan, tidak adil, dan rawan konflik.

” Hal ini dapat menimbulkan ketidakpuasan di kalangan masyarakat, yang pada gilirannya dapat memicu ketidakstabilan politik di tanah air,” ucap Kaka.

Faktor Keengganan

Keengganan DPR dan pemerintah untuk melanjutkan pembahasan paket UU Politik diduga disebabkan oleh berbagai kepentingan politik yang saling berhimpitan.

*DPR pemerintah yang diduga lebih memilih untuk mempertahankan kekuasaan mereka saat ini, ketimbang mengambil langkah-langkah reformasi yang mungkin mengancam posisi mereka,”ujarnya.

Ketidakpastian mengenai dampak dari perubahan UU terhadap kekuasaan dan posisi politik individu menjadi penghalang utama dalam proses legislasi.

Selain itu, proses pembahasan yang rumit dan lambat juga semakin memperburuk keadaan, membuat harapan akan pemilu yang lebih baik semakin menjauh.

Dampak Buruk bagi Pemilu 2029
Jika situasi ini terus berlanjut, pemilu 2029 berpotensi menjadi salah satu yang terburuk dalam sejarah demokrasi Indonesia.

Menurutnya, masyarakat mungkin akan kehilangan kepercayaan terhadap sistem politik, yang dapat berujung pada ketidakpuasan yang meluas dan potensi konflik sosial. Dampak lanjutannya adalah soal regulasi pelaksanaan pilkada serentak sebagaimana amanat Putusan MK Nomor 135 tahun 2024

“LADP Meminta dan menyerukan.
Kami menyerukan kepada seluruh pemangku kepentingan, termasuk DPR, pemerintah, dan masyarakat sipil, untuk bersatu dalam upaya membentuk paket UU Politik yang utuh dan efektif,” imbuhnya.

Dialog terbuka dan kolaborasi antara semua pihak sangat penting untuk menciptakan regulasi yang mendukung pelaksanaan pemilu yang adil dan transparan.

“Mari kita bersama-sama menghindari pemilu yang buruk dan memastikan masa depan demokrasi Indonesia yang lebih baik,”terangnya.(Agus).

Artikel ini telah dibaca 17 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Sekjen Golkar M. Sarmuji Tekankan Pentingnya Adaptasi bagi Kader Muda AMPG di Era Digital

13 Juli 2026 - 12:30 WIB

Sebut PBNU Perlu Perubahan, Cak Imin Dorong Munculnya Sosok Ketua Umum Baru

13 Juli 2026 - 12:27 WIB

Potret Kebersamaan Kapolri, Jaksa Agung, hingga Kepala BIN di Hari Koperasi ke-79

13 Juli 2026 - 12:05 WIB

Anggota DPR RI Rachmat Gobel Meninggal Dunia

10 Juli 2026 - 13:31 WIB

PDIP Pilih Jadi Penyeimbang, Sekjen Golkar: Silakan, Nanti Rakyat yang Menilai!

9 Juli 2026 - 14:10 WIB

PSI Tangsel Bergabungnya Narji Cagur Tambah Kekuatan di Masyarakat

9 Juli 2026 - 12:12 WIB

Trending di Politik