JAKARTA | Harian Merdeka
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memaparkan kondisi fasilitas kesehatan (faskes) pascabencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Selasa (16/12/2025), Budi menyebut seluruh rumah sakit yang sempat terdampak kini telah kembali beroperasi, meski sebagian masih dalam kondisi layanan terbatas.
Budi menjelaskan, saat bencana terjadi pada akhir November 2025, sebanyak 41 rumah sakit di Sumatera sempat tidak dapat beroperasi sama sekali akibat kerusakan infrastruktur dan gangguan operasional.
“Pada 26 November lalu, terdapat 41 rumah sakit di Sumatera yang tidak beroperasi. Saat ini, alhamdulillah, seluruhnya sudah mulai beroperasi kembali, meskipun bertahap, ada yang baru membuka IGD terlebih dahulu atau layanan operasi terbatas,” kata Budi dalam rapat yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto.
Ia mencontohkan Rumah Sakit Tanjung Pura di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, yang sebelumnya terdampak cukup parah dan sempat dikunjungi Presiden. Menurut Budi, rumah sakit tersebut kini telah dibersihkan dan kembali melayani masyarakat, khususnya melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan tindakan operasi terbatas.
“Ke depan, layanan di rumah sakit tersebut akan terus kita tingkatkan agar bisa kembali berjalan secara penuh,” ujarnya.
Selain rumah sakit, Budi juga menyoroti kondisi puskesmas yang terdampak bencana. Dari sekitar 1.000 puskesmas yang tersebar di wilayah Sumatera, sekitar 500 unit dilaporkan mengalami dampak langsung akibat bencana alam.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga pertengahan Desember 2025, sebanyak 414 puskesmas telah kembali beroperasi dan melayani masyarakat. Namun demikian, masih terdapat sekitar 50 puskesmas yang belum dapat difungsikan karena mengalami kerusakan berat.
“Ada puskesmas yang hanyut terbawa banjir, bahkan ada yang hilang sama sekali,” ungkap Budi.
Ia menegaskan, setelah proses pemulihan rumah sakit berjalan, Kementerian Kesehatan akan memfokuskan upaya dalam dua pekan ke depan untuk mengaktifkan kembali puskesmas yang belum beroperasi. Menurutnya, keberadaan puskesmas sangat krusial dalam melayani kebutuhan kesehatan masyarakat terdampak, baik yang telah kembali ke rumah masing-masing maupun yang masih bertahan di posko pengungsian.
“Puskesmas ini sangat penting untuk melayani masyarakat yang tinggal di rumah-rumah serta sekitar 800 ribu warga yang saat ini berada di posko pengungsian. Kami membutuhkan dukungan agar upaya ini bisa berjalan dengan baik,” kata Budi.
Pemerintah pusat, kata Budi, terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta instansi terkait untuk memastikan layanan kesehatan tetap tersedia bagi seluruh korban bencana, sekaligus mempercepat pemulihan sistem pelayanan kesehatan di wilayah terdampak.(Fj)







