TANGERANG SELATAN | Harian Merdeka
Kasus pembunuhan antar saudara kandung mengguncang warga Pamulang, Tangerang Selatan. Seorang pria berinisial N (65) tewas bersimbah darah setelah diduga ditikam oleh adiknya sendiri, F (53), pada Rabu (30/4/2025). Peristiwa tragis ini diduga dipicu oleh persoalan warisan.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi mengungkap kronologi mengerikan yang terjadi di lokasi kejadian. Ia menjelaskan, seorang saksi yang berada di warung dekat lokasi mendengar suara teriakan korban.
“Saksi yang berada di dalam warung mendengar teriakan ‘jangan… jangan… jangan!’ dari luar. Tak lama kemudian, korban datang sempoyongan, bersimbah darah, dan jatuh di depan pintu warung,” kata Ade Ary kepada wartawan, Minggu (4/5/2025).
Pelaku, menurut saksi, terlihat membawa celurit dan langsung melarikan diri. Ia sempat menuju rumah kakaknya yang lain dan dengan nada mengancam mengatakan, “Noh, abang lu udah gue matiin di depan warung,” sebelum akhirnya kabur dari lokasi.
Peristiwa ini viral di media sosial dengan narasi bahwa pembunuhan dipicu oleh perebutan harta warisan. Polisi pun bergerak cepat. Hanya dalam waktu kurang dari 1×24 jam, pelaku berhasil diamankan dan kini telah ditetapkan sebagai tersangka.
“Sudah tersangka statusnya. Sekarang diamankan di Mako Polres Tangsel,” kata Kapolres Metro Tangerang Selatan AKBP Victor Inkiriwang, Jumat (2/5).
Meski begitu, Victor belum bisa memastikan secara definitif apakah motif utama pembunuhan ini adalah perebutan warisan, meski isu itu ramai beredar di masyarakat.
“Kami masih mendalami motifnya. Yang beredar memang soal warisan, tetapi itu belum bisa kami pastikan sampai pendalaman selesai,” katanya.
Victor menjelaskan, kejadian bermula dari laporan warga mengenai keributan di depan sebuah warung kelontong di Kedaung, Pamulang. Saat petugas tiba, korban sudah dalam kondisi meninggal dunia dengan luka bacok di sekitar leher dan pundak.
“Kami menunggu hasil pemeriksaan dokter forensik untuk memastikan penyebab pasti kematian. Yang jelas ada luka di bagian leher dan pundak yang diduga akibat senjata tajam,” ujarnya.
Kini, kasus ini masih dikembangkan lebih lanjut dengan melibatkan ahli dan pendekatan scientific crime investigation. Polisi juga tengah menggali latar belakang hubungan antara pelaku dan korban untuk mengetahui motif sebenarnya di balik aksi keji ini. (wil)







