Menu

Mode Gelap
Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi Isra Miraj Jadi Momentum Pertobatan Ekoteologis, Menag Ajak Umat Berhenti Merusak Alam

Ekbis · 22 Jan 2026 17:19 WIB ·

Pakar UI: Kawasan Industri Pupuk Fakfak Strategis untuk Transformasi Ekonomi Papua


Pakar UI: Kawasan Industri Pupuk Fakfak Strategis untuk Transformasi Ekonomi Papua Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Pembangunan Kawasan Industri Pupuk (KIP) Fakfak di Papua Barat dinilai sebagai langkah strategis untuk mendorong transformasi ekonomi Indonesia Timur. Proyek ini diyakini mampu menciptakan efek domino positif yang berkelanjutan melalui penguatan sektor hulu, hilir, serta aktivitas ekonomi lokal.

Peneliti dan Pengajar Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia, Mohamad Dian Revindo, menilai industri pupuk di Fakfak sejalan dengan agenda pembangunan ekonomi yang lebih berkeadilan. Selama ini, struktur ekonomi Papua masih didominasi sektor ekstraktif dengan nilai tambah yang relatif rendah.

“Rencana pemerintah membangun industri pupuk di Fakfak dapat dipandang sebagai langkah strategis dalam mendorong pembangunan ekonomi yang lebih berkeadilan, melalui penguatan backward linkage ke sektor hulu dan forward linkage ke sektor hilir,” ujar Revindo dalam keterangan pers, Rabu (21/1/2026).

Dari sisi hulu, Revindo mengatakan, industri pupuk berpotensi menyerap berbagai sumber daya lokal, mulai dari pemanfaatan gas alam sebagai bahan baku, hingga keterlibatan sektor pendukung seperti jasa konstruksi, logistik, energi, serta tenaga kerja lokal.

Keunggulan geografis Fakfak yang berada dekat jalur maritim kawasan timur Indonesia juga menjadi nilai tambah tersendiri. Posisi ini dinilai mampu menekan biaya distribusi pupuk dibandingkan jika seluruh pasokan dikirim dari wilayah barat Indonesia, sekaligus meningkatkan daya saing industri.

Menurut Revindo, pengembangan industri pengolahan berbasis sumber daya lokal menjadi kunci untuk memperluas basis ekonomi daerah dan mengurangi ketergantungan Papua pada eksploitasi sumber daya primer.

Namun, ia menekankan bahwa manfaat Kawasan Industri Pupuk Fakfak harus dapat dirasakan langsung oleh masyarakat lokal. Keberadaan kawasan industri tidak cukup hanya menyerap tenaga kerja di dalam kawasan, tetapi juga harus mendorong tumbuhnya usaha pendukung di luar kawasan.

“Pengalaman di Indonesia menunjukkan kawasan industri dapat menjadi pengungkit ekonomi daerah apabila terintegrasi dengan ekonomi lokal,” katanya

Dari sisi hilir, Revindo mengatakan, kehadiran industri pupuk di Fakfak berpotensi memperkuat basis produksi komoditas pertanian dan perkebunan di Papua serta kawasan timur Indonesia. Dampak lanjutannya adalah terciptanya efek pengganda bagi sektor transportasi, perdagangan, dan jasa penunjang

Revindo menilai, hilirisasi sumber daya alam di Papua merupakan agenda penting untuk menciptakan nilai tambah ekonomi yang selama ini lebih banyak dinikmati wilayah lain. Lebih jauh, pengembangan industri pengolahan di Papua, termasuk industri pupuk di Fakfak, tidak hanya berfungsi sebagai strategi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sebagai upaya pengendalian biaya hidup dan penguatan ketahanan ekonomi wilayah.

Arah kebijakan ini sejalan dengan perencanaan nasional. Bappenas menegaskan bahwa industrialisasi berbasis wilayah di kawasan timur Indonesia, termasuk Papua, menjadi prasyarat penting untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang lebih seimbang, berkelanjutan, dan berkeadilan secara spasial.

“Urgensi percepatan pembangunan ekonomi di Papua bukan semata mengejar pertumbuhan, tetapi harus diarahkan pada diversifikasi ekonomi, penciptaan lapangan kerja lokal, serta penguatan sektor produktif non-ekstraktif agar manfaat pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat,” tuturnya

Meski demikian, Revindo mengingatkan adanya sejumlah prasyarat agar pembangunan kawasan industri di Papua memberikan manfaat berkelanjutan. Di antaranya adalah pengakuan dan perlindungan hak masyarakat adat, prioritas penyerapan serta pelatihan tenaga kerja lokal, penguatan UMKM Papua dalam rantai pasok industri, serta penerapan standar lingkungan yang ketat.

“Manfaat tersebut tidak bersifat otomatis. Diperlukan pendekatan pembangunan yang inklusif, khususnya di daerah dengan karakter sosial dan budaya yang khas seperti Papua. Tanpa pendekatan sosial-budaya yang kontekstual, manfaat industrialisasi berisiko tidak optimal,” ucap Revindo. (Egi)

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

​Menelusuri Jejak Kebocoran Dana Desa: Daftar Menteri Desa 2014-2026 yang Kini Jadi Sorotan

15 Februari 2026 - 01:38 WIB

​Pakar Hukum Soroti Penyegelan Senayan: Langkah Bea Cukai Jakarta Langgar Prosedur Hukum?

15 Februari 2026 - 01:33 WIB

​Ketua Umum APKLI-P: Sertifikasi Halal Adalah Kunci PKL dan UMKM Naik Kelas

14 Februari 2026 - 22:14 WIB

Pegadaian Bantah Kelangkaan, Stok Emas Dipastikan Cukup

13 Februari 2026 - 16:54 WIB

Mentan: Surplus Produksi Cabai Jaga Ketersediaan Selama Ramadan dan Lebaran

13 Februari 2026 - 15:40 WIB

Dialog Kritis: Bos MSCI Bahas IHSG dan Tata Kelola dengan Luhut Selama Dua Jam

13 Februari 2026 - 14:57 WIB

Trending di Ekbis