JAKARTA | Harian Merdeka
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menjelaskan pemerintah bisa mengeluarkan beras bencana. Beras yang beada di gudang Bulog dikeluarkan melalui skema beras bencana. Sehingga tak ada kelangkaan bahan pangan pokok tidak akan terjadi.
Tito meminta bagi para kepala daerah di wilayah terdampak bencana, di Propinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, segera megecek status pasokan beras cadangan pemerintha di Gudang Bulog terdekat. Bila ada pasokan, beras bisa dikeluarkan dengan epat lewat skema beras bencana.
Kepala Daerah cukup bersurat kepada Badan Pangan Nasional (Bapanas), kemudian Bapanas akan menugaskan Bulog untuk mengeluarkan stok beras yang ada tanpa ada batas.
“Mereka bisa keluarkan namanya beras bencana, itu bisa dikeluarkan unlimited, sepanjang ada permintaan dari Kepala Daerah dan Kepada Badan Pangan Nasional, Pak mentan, Pak amran, kemudian dieksekusi Bulog,” ujar Tito dalam konferensi pers di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Pusat, dikutip, Rabu (3/12).
Ia menjelaskan, telah berkoordinasi dengan Dirut Bulog Ahmad Rizal Ramdhani soal banyaknya stok beras cadangan pemerintah di Gudang Bulog pada wilayah yang terdampak bencana.
Dari laporan itu ternyata cukup banyak stok beras di daerah, hanya saja kepala daerah yang terkena bencana tak mengetahuinya.
“Kita berkoordinasi juga, dan pak Rizal akan zoom meeting dengan seluruh pemerintah daerah terdampak. Banyak yang nggak tahu mungkin ini, untuk kepala daerah terdampak tolong lihat kondisi cadangan yang ada di Gudang Bulog,” jelas Tito.
“Misalnya itu ada, tinggal buat surat saja kepada Kepala Bapanas, bisa melalui saya bisa nanti saya forward, pak Amran nanti kepada Bulog, dan Bulog akan mengeksekusi,” katanya melanjutkan penjelasan.
Tito mencontohkan kejadian di Lhokseumawe, dia bilang daerah itu terputus konektivitasnya setelah ada bencana. Bahan pangan hampir habis, dan pasokan pangan dilaporkan cuma bisa didapatkan dari Medan atau Banda Aceh.
Namun ketika Tito datang ke lokasi, Gudang Bulog di sana menyimpan stok beras yang cukup besar. Dia meminta stok tersebut dikeluarkan dengan skema beras bencana.
“Saat saya datang ke Lhoksumawe ternyata ada di Gudang Bulog 28 ribu ton untuk konsumsi Lhokseumawe, Aceh Utara, Bireun, yang tiga-tiganya terkunci, dan jadi sebetulnya tak perlu ambil beras dari tempat lain, itu cukup untuk 9 bulan itu,” pungkasnya. (Con)







