JAKARTA | Harian Merdeka
Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) merasa khawatir terkait wacana kenaikan tarif ojol sebesar 8-15 %. Mereka menilai kebijakan itu berpotensi membuat pelanggan sepi, terlebih aplikator terlibat perang diskon dan promo.
“Ya paling kita khawatir penumpang berkurang, mereka bisa pindah ke transportasi lain atau nyari promo di kompetitor. Kan aplikator juga kasih potongan Rp1.000 per pesanan buat customer,” tutur Dedi (42), salah satu pengemudi ojol, Rabu (2/7)
Menurut Dedi, saat ini pun pendapatan sudah menurun drastis karena promo dan potongan besar dari para aplikator. “Kalau kita kena potongan sampai 20 persen. Kasihan customer juga, sudah dipotong di penggunaan aplikasi,” ujarnya.
Ia juga menyebut perang diskon dan perang tarif antar aplikator membuat para mitra pengemudi berada dalam posisi sulit. “Sekarang aja tarif normal sudah sepi penumpang, sehari cuma bisa dapat satu dua order,” lanjutnya.
Hal senada disampaikan Yogi (25), seorang mahasiswa yang juga menjadi pengemudi ojol paruh waktu. Ia baru mendengar soal wacana kenaikan tarif tersebut, namun mengaku belum tahu dampaknya secara pasti.
“Kalau tarif naik, bisa saja peminat turun. Potongan juga sudah gede, sampai 20 persen. Kadang orderan Rp40 ribu, dipotong tinggal dapat Rp2 ribuan per kilometer,” kata Yogi.
Ia berharap potongan dari aplikator bisa ditekan agar pendapatan pengemudi lebih layak. “Harapannya biaya admin dikurangi. Argo food misalnya, pesanannya Rp10 ribu, tapi pelanggan bayar ongkir Rp19 ribu,” katanya. (jr)







