Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Politik · 9 Feb 2026 16:01 WIB ·

Prabowo–Zulhas 2029 Didukung PAN, Pengamat Ingatkan Persepsi Publik


Prabowo–Zulhas 2029 Didukung PAN, Pengamat Ingatkan Persepsi Publik Perbesar

​JAKARTA | Harian Merdeka

Partai Amanat Nasional (PAN) mulai menebar jaring untuk kontestasi Pilpres 2029 dengan mewacanakan duet Prabowo Subianto dan Zulkifli Hasan (Zulhas) sebagai pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden. Langkah ini memicu tanya, mengingat pemerintahan periode saat ini baru saja berjalan dan fokus publik masih tertuju pada penguatan koalisi besar.

​Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Kajian Politik Nasional (KPN) , Adib Miftahul, menilai manuver PAN yang mulai menggaungkan nama Zulhas sebagai pendamping Prabowo di 2029 adalah langkah yang terlalu dini dan cenderung kontraproduktif. Menurutnya, narasi ini justru bisa merugikan citra partai di mata publik.

​”Bicara soal 2029 saat ini itu terlalu dini, prematur, dan tidak menguntungkan. Isu seperti ini akan sangat mudah ditelan oleh gelombang narasi lain karena rangkaian pemilu masih sangat jauh,” ujar Adib saat dihubungi, Minggu (8/2).

​Sentimen Negatif Figur Zulkifli Hasan

Adib menyoroti bahwa figur Zulkifli Hasan masih dibayangi oleh berbagai sentimen negatif dari masa lalunya saat menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup, termasuk isu terkait perizinan konsesi dan musibah asap yang kembali diingat publik. Selain itu, gaya komunikasi politik Zulhas, seperti aksi memanggul beras saat bencana, dinilai publik sebagai pencitraan yang kurang tepat.

​”Figur Zulhas ini banyak negatifnya ketimbang sentimen positif. Memainkan isu ini sekarang justru bisa dimaknai masyarakat sebagai bentuk keserakahan politik. Masih jauh kok sudah bicara Pilpres,” tegasnya.

​Melepas Bayang-bayang Jokowi dan Gibran

Lebih lanjut, Adib melihat adanya upaya PAN untuk mulai “melepaskan diri” dari ketergantungan figur Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Hal ini diperkuat dengan arah politik Jokowi yang kini dinilai lebih condong ke PSI.

​”PAN seolah membuang Gibran, dan itu keputusan yang tepat secara taktis bagi mereka karena Jokowi kiblatnya sudah jelas ke PSI. Efek ekor jas (coattail effect) Jokowi tidak bisa lagi diharapkan banyak oleh partai lain,” jelas Adib.

​Kinerja Pemerintahan sebagai Modal Utama

Dibandingkan melempar isu Pilpres yang prematur, Adib menyarankan PAN untuk lebih fokus mengkapitalisasi keberhasilan pemerintahan Prabowo saat ini. Ia merujuk pada survei Indikator yang menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo mencapai 79,9 persen lebih.

​”Harusnya PAN fokus membangun kanal isu keberhasilan pemerintah, misalnya keberhasilan Zulhas di kementeriannya. Itu jauh lebih bisa dimainkan daripada bicara 2029 yang baru akan terasa ‘kencang’ di akhir 2027 atau 2028 nanti,” pungkasnya. (Egi)

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pesawaran Bersinar di Rakorwil PSI Lampung: Diganjar Hadiah Khusus dari Ketum Kaesang

21 April 2026 - 12:16 WIB

Direktur P3S : Cari Aman dalam TPPU, Ahmad Ali Hijrah ke PSI

21 April 2026 - 12:08 WIB

Godok Revisi UU Advokat, Kongres Advokat Indonesia : Tidak Ada Lagi Wadah Tunggal

21 April 2026 - 11:49 WIB

Dari Magelang, Ketua DPRD Kota Gunungsitoli Serap Strategi Bangun Daerah

20 April 2026 - 12:53 WIB

IKA PMII Pakuan: Penataan Wali Kota Bogor Jangan Cekik Ekonomi Rakyat

17 April 2026 - 12:12 WIB

Denny Charter: Kejaksaan Lebih Mumpuni, Saatnya KPK Dibubarkan

17 April 2026 - 12:10 WIB

Trending di Politik