JAKARTA | Harian Merdeka
Isu adanya reshuffle kabinet di pemerintahan Prabowo-Gibran menjadi perbincangan publik saat ini. Pasalnya terdengar kabar ada beberapa menteri yang terkena reshuffle.
Pengamat politik Universitas Terbuka (UT) Insan Praditya Anugrah mengatakan, masih banyak di dalam kabinet Prabowo yang loyal terhadap Jokowi.
“Dari menteri-menteri Prabowo, masih terdapat para loyalis Jokowi yang harus direshuffle dalam resuffle kabinet selanjutnya,” kata Insan kepada Harian Merdeka, Selasa (10/2/2026).
Insan menilai bahwa yang berpotensi terkena reshuffle kabinet adalah yang pertama dan paling utama adalah Bahlil Lahadalia.
Ia merupakan sosok kontroversial yang secara integritas diragukan, terutama dari pendidikannya yang menempuh gelar doktor dengan waktu yang tidak wajar.
Selain itu, Bahlil juga terindikasi memiliki konflik kepentingan dengan para pengusaha yang mendapatkan izin tambang.
- Karena Bahlil juga sebelum menjabat menteri sempat menjadi pengusaha tambang dan memiliki rekan-rekan di sektor usaha tambang, terutama di wilayah Indonesia bagian timur,” bebernya.
“Selanjutnya, menteri yang harus direshuffle adalah Pratikno. Pratikno tampaknya merupakan operator Jokowi untuk melindungi eksistensi Gibran, sama seperti Bahlil,” ucapnya.
Menurut dia, dengan keberadaan Pratikno sebagai Menko, Prabowo tidak dapat lepas dari bayang-bayang Joko Widodo.
Selanjutnya, Prabowo juga harus mempertimbangkan Tito Karnavian untuk direshuffle. Hal ini karena Tito Karnavian juga memiliki hubungan dekat dengan Joko Widodo.
Meskipun ia tidak kontroversial seperti Bahlil, namun posisi Mendagri yang memiliki kekuasaan hingga ke daerah-daerah berpotensi kontra produktif apabila dikuasai oleh loyalis Joko Widodo”
“Terakhir, Presiden Prabowo juga harus mengganti Kapolri Listyo Sigit Prabowo sebagai orang yang sudah berada di puncuk pimpinan Polri sejak era Joko Widodo,” sebutnya.
Ia juga tampaknya tidak kooperatif saat Presiden hendak melakukan reformasi kepolisian Republik Indonesia. Dengan mencopot orang-orang ini dari kabinet, maka Prabowo akan dapat mengkonsolidasikan kekuasaannya dan menempatkan orang-orang yang kooperatif dengan Prabowo, sehingga kekuasaannya sebagai presiden terkonsolidasi dengan baik.
Dia menambahkan bahwa kita harus tetap mengawasi supaya orang-orang dekat yang ditunjuk Prabowo bukanlah orang yang problematis dan juga bukan orang yang ditunjuk hanya karena sekadar memiliki hubungan saudara atau kerabat dengan Prabowo Subianto, selaku Presiden Republik Indonesia, namun orang yang memiliki kapasitas dan pengalaman sesuai bidangnya.(Agus).







