Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Ekbis · 14 Jan 2026 15:54 WIB ·

Gejolak Pasar Keuangan Dunia Membuat Rupiah Tertekan di Awal 2026


Gejolak Pasar Keuangan Dunia Membuat Rupiah Tertekan di Awal 2026 Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Rupiah tertekan awal 2026 akibat gejolak pasar keuangan global. Tekanan ini muncul karena tensi geopolitik dan ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat. Bank Indonesia (BI) menyatakan gejolak pasar keuangan global pada awal 2026 menekan pergerakan mata uang dunia, termasuk rupiah yang melemah. Tekanan tersebut muncul akibat eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G Hutapea, menjelaskan kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan valuta asing domestik pada awal tahun.

“Tekanan itu bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di beberapa negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan,” ujar Erwin di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Rupiah Tertekan Awal 2026 Dipicu Tekanan Global

Sementara itu, Erwin menyebutkan rupiah ditutup melemah ke level Rp16.860 per dolar AS pada 13 Januari 2026. Secara year to date, rupiah terdepresiasi sebesar 1,04 persen.

Meski demikian, Erwin menegaskan pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional. Sejumlah mata uang Asia juga tertekan akibat sentimen global yang sama.

“Won Korea melemah sebesar 2,46 persen, sedangkan peso Filipina turun 1,04 persen,” jelasnya.

Selanjutnya, Erwin menegaskan Bank Indonesia tetap konsisten menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. BI menjalankan kebijakan stabilisasi secara berkesinambungan di berbagai pasar.

BI melakukan intervensi melalui NDF di pasar off-shore. Selain itu, BI juga melakukan intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, serta pembelian surat berharga negara di pasar sekunder.

Di sisi lain, stabilitas rupiah turut didukung aliran masuk modal asing. Pada Januari 2026, aliran modal asing ke SRBI dan pasar saham secara neto mencapai Rp11,11 triliun.

Selain itu, ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga. Cadangan devisa tercatat sebesar 156,5 miliar dolar AS pada akhir Desember 2025.

“Bank Indonesia akan terus berada di pasar. Kami memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat,” pungkas Erwin. Bank Indonesia memastikan stabilitas tetap terjaga meski rupiah tertekan awal 2026 akibat tekanan eksternal. Bank Indonesia menilai koordinasi kebijakan dengan pemerintah menjadi kunci menjaga stabilitas ekonomi nasional. Sinergi tersebut diperlukan agar dampak gejolak global terhadap perekonomian domestik tetap terkendali.(tfk/rhm)

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Forum Pemred Multimedia dan MitMe.id Jalin Kerjasama Strategis Monetisasi dan Penguatan Brand Media Nasional dan Daerah

28 April 2026 - 13:22 WIB

Pemerintah Genjot Digitalisasi Koperasi Desa

27 April 2026 - 13:33 WIB

Lurah Dedi : Koperasi Merah Putih Jurangmangun Barat Bangkitkan Ekonomi Masyarakat

24 April 2026 - 13:42 WIB

DJP Gencar Kejar Pajak di Sektor Digital, Jam Tangan hingga Rumah Mewah

21 April 2026 - 17:11 WIB

Bahlil Tegaskan Harga LPG 3 Kg Tetap Stabil

21 April 2026 - 16:39 WIB

Kenaikan BBM dan Elpiji Nonsubsidi: Raport Merah Bahlil Lahadalia

21 April 2026 - 12:10 WIB

Trending di Ekbis