Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Ekbis · 3 Mar 2026 12:03 WIB ·

Waspada Gejolak Global! DPR Ingatkan Potensi Lonjakan Harga BBM Akibat Blokade Selat Hormuz


Waspada Gejolak Global! DPR Ingatkan Potensi Lonjakan Harga BBM Akibat Blokade Selat Hormuz Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Penutupan Selat Hormuz di tengah eskalasi konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. DPR RI mengingatkan pemerintah agar bersiap melihat potensi menampilkan harga minyak dan dampaknya terhadap perekonomian nasional.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia menilai langkah Iran menutup Selat Hormuz serta mengancam kapal komersial di kawasan tersebut berpotensi mengganggu jalur perdagangan dunia dan menaikkan biaya logistik dalam waktu dekat.

“Selat Hormuz merupakan jalur strategi perdagangan global yang menjadi pintu keluar masuk utama minyak dan komoditas dari kawasan Teluk yang artinya gangguan di jalur ini tidak hanya mempengaruhi perdagangan internasional,” ungkap Chusnunia dalam keterangan rilisnya, Senin (2/3/2026).

Memang benar, situasi tersebut hampir pasti berdampak pada pelaku usaha. Eskalasi konflik dinilai berpotensi meningkatkan biaya perdagangan, terutama bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak mentah.

“Dampaknya, biaya impor dan ekspor Indonesia berpotensi meningkat terlebih Indonesia, karena negara-negara yang masih bergantung pada impor minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan energinya,” tambahnya.

Chusnunia juga mengingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz dapat memicu kenaikan harga minyak dunia secara signifikan.

Setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel di atas asumsi pemerintah, kata dia, berpotensi menambah beban negara hingga Rp10,3 triliun.

“Kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya transportasi, manufaktur, dan pertanian, yang pada gilirannya akan meningkatkan harga barang dan jasa secara keseluruhan,” ungkapnya.

Tak hanya sektor energi dan industri, ia memperkirakan ikut pariwisata terdampak akibat kenaikan harga tiket pesawat dan biaya akomodasi yang dapat menekan minat wisatawan berkunjung ke Indonesia.

Menurutnya, eskalasi konflik nasional di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz menjadi ancaman serius bagi dunia usaha.

Gangguan pasokan energi dan distribusi logistik dinilai dapat berdampak pada berbagai sektor dan menghambat pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, Chusnunia memandang kondisi ini juga bisa menjadi momentum untuk mempercepat transformasi ekonomi menuju sistem yang lebih berkelanjutan dan mandiri.

“Pemerintah dan dunia usaha perlu mengambil langkah-langkah mitigasi risiko dan strategi adaptasi yang komprehensif, Pemerintah perlu menciptakan kebijakan yang mendukung dan memberikan insentif kepada dunia usaha untuk melakukan diversifikasi sumber energi, meningkatkan efisiensi energi, dan mengembangkan industri substitusi impor,” ujarnya. (Agus).

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Manajemen Baru Pelindo Hasilkan Kepuasan Pelanggan Pelindo

30 April 2026 - 20:08 WIB

Produksi Solid Kuartal I 2026, PKT Catat Capaian 2,14 Juta Ton

29 April 2026 - 16:50 WIB

Forum Pemred Multimedia dan MitMe.id Jalin Kerjasama Strategis Monetisasi dan Penguatan Brand Media Nasional dan Daerah

28 April 2026 - 13:22 WIB

Pemerintah Genjot Digitalisasi Koperasi Desa

27 April 2026 - 13:33 WIB

Lurah Dedi : Koperasi Merah Putih Jurangmangun Barat Bangkitkan Ekonomi Masyarakat

24 April 2026 - 13:42 WIB

DJP Gencar Kejar Pajak di Sektor Digital, Jam Tangan hingga Rumah Mewah

21 April 2026 - 17:11 WIB

Trending di Ekbis