JAKARTA | Harian Merdeka
Pemerintah saat ini terus melakukan kemandirian dan ketahanan energi nasional sebagai kedaulatan berkelanjutan.
Ketua Program Studi Ilmu Doktor FEB USAKTI, Prof, Dr Willy Arafah,MM,DBA menilai kemandirian dan ketahanan energi Indonesia belum sepenuhnya tercapai akibat tingginya ketergantungan pada impor minyak dan LPG
“Walaupun pasokan listrik dan batu bara stabil, fluktuasi harga global serta ketimpangan infrastruktur masih menjadi tantangan utama,” kata Willy kepada Harian Merdeka, Sabtu (21/2/2026).
Willy menjelaskan, saat ini, pemerintah tengah berupaya mempercepat transisi energi terbarukan dan hilirisasi sumber daya domestik guna mengurangi impor dan mewujudkan kedaulatan energi yang berkelanjutan.
Untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi, pemerintah perlu mempercepat transisi dari energi fosil ke Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan mengoptimalkan potensi sumber daya lokal.
“Langkah strategis ini mencakup pengurangan impor melalui program elektrifikasi transportasi, hilirisasi batu bara menjadi DME untuk substitusi LPG, serta perluasan infrastruktur energi yang merata hingga ke wilayah pelosok,” ucap Willy.
Selain itu, kata dia, diperlukan kebijakan insentif yang kuat dan peningkatan iklim investasi guna mendorong inovasi teknologi energi domestik demi menjamin ketersediaan energi yang mandiri, terjangkau, dan berkelanjutan.
Menurut Guru Besar Universitas Trisakti ini, untuk mencapai swasembada energi, pemerintah melakukan percepatan pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT), hilirisasi sumber daya alam (seperti batu bara menjadi DME untuk substitusi LPG), peningkatan produksi migas domestik, serta mendorong program elektrifikasi massal guna mengurangi ketergantungan pada energi impor.
Untuk mempercepat terwujudnya kemandirian dan ketahanan energi nasional, pemerintah melakukan langkah strategis melalui percepatan transisi ke Energi Baru Terbarukan (EBT) serta hilirisasi sumber daya alam, seperti konversi batu bara menjadi DME untuk menggantikan LPG impor.
Selain itu, pemerintah mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik secara masif guna menekan konsumsi BBM, memperluas pembangunan infrastruktur jaringan listrik dan pipa gas nasional, serta menggenjot eksplorasi migas domestik demi menjamin pasokan energi yang mandiri, merata, dan berkelanjutan.
Lebih lanjut dia menjelaskan, harapan utama terhadap terwujudnya swasembada energi nasional adalah terciptanya kedaulatan ekonomi yang kokoh, di mana Indonesia tidak lagi rentan terhadap gejolak harga atau konflik global karena kebutuhan energi dipenuhi sepenuhnya dari sumber daya domestik,” bebernya.
*Dengan kemandirian ini, diharapkan energi menjadi lebih terjangkau dan merata bagi seluruh rakyat, mampu menggerakkan roda industri nasional secara efisien, serta sekaligus mewujudkan lingkungan yang lebih bersih melalui pemanfaatan energi terbarukan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang,” ungkapnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melihat swasembada energi sebagai agenda besar yang membutuhkan keberanian berinovasi dan kerja bersama seluruh pemangku kepentingan.
Ia memandang berbagai terobosan yang kini dijalankan menunjukkan optimisme baru dalam mengoptimalkan potensi domestik. Melalui intervensi teknologi pada sumur minyak tua hingga percepatan proyek hulu migas, pemerintah berupaya membuka peluang produksi yang lebih besar sekaligus memperkuat fondasi menuju kemandirian energi nasional. Pandangan tersebut memperlihatkan adanya pergeseran pendekatan dari sekadar menjaga pasokan menuju upaya menciptakan ekosistem energi yang produktif dan berorientasi masa depan.
Salah satu fokus utama pemerintah adalah optimalisasi sumur minyak yang selama ini belum berproduksi maksimal. Dengan pendekatan teknologi dan kemitraan strategis, langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi nasional secara lebih efisien tanpa harus sepenuhnya bergantung pada eksplorasi baru yang membutuhkan waktu panjang. Pemerintah melihat bahwa pemanfaatan aset yang sudah ada merupakan bentuk efisiensi sekaligus strategi percepatan menuju swasembada energi. Upaya ini juga diyakini dapat membuka peluang transfer teknologi serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor energi. (Agus).







