JAKARTA | Harian Merdeka
Ribuan warga melakukan aksi demo di depan kantor Bupati Pati, Rabu (13/8). Mereka menuntut Bupati Pati, Sadewo, dilengserkan. Meski begitu, Bupati Pati, Sadewo menolak tuntutan para demonstran untuk mengundurkan diri.
Sejak Rabu (13/08) subuh tadi, warga dari berbagai wilayah mulai memadati kawasan Alun-alun Pati. Beberapa kali terdengar teriakan dari kelompok warga, “Bupati Pati Sudewo harus lengser” yang diikuti seruan bersama.
Sekitar pukul 11.00 WIB, aksi unjuk rasa mulai memanas. Massa mulai melempari barang-barang seperti botol minuman, tiang bendera, hingga sandal ke arah polisi. Aksi itu dilakukan karena massa kecewa Bupati Pati Sudewo maupun perwakilan dari pemerintah kabupaten tidak kunjung menemui pendemo.
Rasa kecewa massa pun tak terbendung. Mereka berusaha masuk dengan mendobrak gerbang kantor Bupati. Melihat massa mulai anarkis, aparat mulai merespons situasi itu dengan menyemprotkan meriam air ke arah pendemo.
Puncaknya, sekitar pukul 12.00 WIB, polisi melepaskan tembakan gas air mata ke kerumunan warga. Mereka lantas berhamburan untuk menghindari gas tersebut. Akibatnya, sejumlah warga, diantaranya perempuan dan anak-anak dilarikan ke rumah sakit.
“Korban luka dalam unjuk rasa dilaporkan mencapai 33 orang. Seluruhnya dirawat di RSUD RAA Soewondo,” tutur Direktur RSUD, Rini Susilowati.
Menurutnya, seluruh korban mengalami luka ringan dan kondisinya sudah stabil.
Seorang warga yang terkena gas air mata, Kartini mengatakan bahwa matanya perih dan mengalami sesak napas. “Tolong, Pak polisi, jangan pakai gas air mata, mata ini sakit, napas sesak, ya Allah, sesak sekali,” kata Kartini.
“Saya sampai nangis, padahal kena sedikit, gimana kalau banyak?” ucap Kartini.
Perempuan 56 tahun ini berkata telah mendengar “banyak sekali” tembakan gas air mata. Dia meminta polisi menghentikan tembakan itu karena “banyak anak dan perempuan” di tengah kerumuman pengunjuk rasa.
Warga Pati lainnya, Ario Adisaputra, datang bersama beberapa rekannya dengan menumpang truk.
Mengenakan topi caping dan kacamata, pemuda 24 tahun ini mendukung penggulingan Bupati Sudewo dari jabatannya. “Sudewo harus lengser karena tidak mengayomi masyarakat sama sekali. Kami tidak perlu dipimpin orang pekok,” ucapnya.
Sementara itu, Bupati Pati, Sudewo menanggapi desakan massa yang memintanya untuk mundur. Namun, politisi Partai Gerindra ini menyatakan tak mau mundur.
“Saya kan dipilih rakyat secara konstitusional dan secara demokratis jadi tidak bisa saya berhenti dengan tuntutan itu, semua ada mekanismenya,” ujar Sudewo, dikutip, Rabu (13/8).
Ia menyatakan, dirinya menghormati hak angket yang disepakati DPRD Pati. “Itu kan hak angket yang dimiliki DPRD, jadi saya menghormati hak angket tersebut, paripurna tersebut,” ujarnya.
Menurutnya demo hari ini menjadi pembelajaran bagi dirinya. Ia berjanji akan lebih baik lagi dan berharap agar warga Pati menjaga soliditas.
“Ini pembelajaran bagi seluruh masyarakat Pati untuk menjaga soliditas, menjaga kekompakan jangan sampai terprovokasi siapapun. Jadi Pati ini adalah milik semuanya, yang harus menjaga Kabupaten Pati siapa? Ya warga Pati, saya harap ini jadi pembelajaran bagi warga Pati dan untuk saya,” lanjutnya. (jr)







