JAKARTA | Harian Merdeka
Ketua Umum Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia Perjuangan (APKLI-P) sekaligus Presiden KAI, dr. Ali Mahsun ATMO, M.Biomed., menegaskan bahwa Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto merupakan sosok pemimpin yang secara ideologis dan moral sangat berpihak kepada pedagang kaki lima (PKL) dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Namun, ia mempertanyakan mengapa berbagai kebijakan pro-rakyat kecil tersebut kerap tidak berjalan efektif bahkan tumpul di lapangan.
Pernyataan tersebut disampaikan dr. Ali Mahsun ATMO, M. Biomed dalam Special Podcast yang digelar pada Senin, 5 Januari 2026, bertempat di PG Center.
Dalam perbincangan mendalam itu, dr. Ali Mahsun mengungkapkan bahwa keberpihakan Presiden Prabowo terhadap ekonomi rakyat kecil bukanlah retorika politik, melainkan telah ditunjukkan sejak masa kampanye Pilpres 2024, saat dilantik sebagai Presiden ke-8 Republik Indonesia hingga saat ini Januari 2026.
“Presiden Prabowo sangat menghormati dan membanggakan bahkan memuliakan pedagang kaki lima, pedagang bakso, warung tegal, UMKM, dan pelaku ekonomi rakyat lainnya karena rezekinya halal. Itu saya dengar sendiri sejak beliau berkampanye, dan saya lihat konsistensinya sampai hari ini,” ujar dokter ahli kekebalan tubuh alumni FKUB dan FKUI dikutip Selasa (6/1/2026).
Namun demikian, ia menyoroti adanya persoalan serius ketika kebijakan presiden tidak berjalan optimal di tingkat kementerian dan lembaga. Menurutnya, kondisi inilah yang memunculkan kegelisahan di kalangan rakyat kecil, PKL UMKM di negeri ini.
“Kalau kebijakan presiden sudah sangat jelas berpihak ke rakyat kecil, PKL UMKM, tapi di bawah tumpul dan tidak berjalan, pertanyaannya sederhana: salah siapa?” tegas Pembantu Rektor Undar Jombang Jatim 2010-2012.
*Pengabdian Seorang Dokter untuk Rakyat Kecil
Dalam podcast tersebut, Ali Akbar Soleman Batubara menyoroti pilihan hidup dr. Ali Mahsun ATMO yang meninggalkan kenyamanan profesi dokter ahli kekebalan tubuh untuk mendampingi PKL dan UMKM selama lebih dari 14 tahun sejak 2011 saat teramanahi Ketua Umum APKLI-P pada Munas IV di Semarang Jawa Tengah.
dr. Ali Mahsun menceritakan bahwa keputusan tersebut lahir dari pengalaman hidupnya sendiri yang berasal dari keluarga miskin di Mojokerto, Jawa Timur. Sejak kecil ia pernah merasakan hidup sebagai penjual keliling, buruh bangunan, tukang strum accu hingga harus berjuang keras sebagai sopir angkutan pedesaan guna menyelesaikan pendidikan kedokteran di Universitas Brawijaya, Malang.
“Saya pernah merasakan sendiri menjadi orang miskin. Orang miskin itu tidak punya banyak cita-cita, harapannya hanya satu: besok bisa makan dan anak bisa sekolah,” ungkap Ketua Umum Bakornas LKMI PBHMI 1995-1998.
Pengalaman itulah yang membuatnya merasa terpanggil secara moral dan spiritual untuk memperjuangkan nasib pelaku ekonomi kecil. Ia menyebut pengabdiannya sebagai amanah dari Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT.
“Ini bukan soal politik atau materi. Ini panggilan hati. Saya dedikasikan hidup, pengalaman dan ilmu saya untuk mengobati penyakit ekonomi rakyat kecil,” imbuh Sekretaris Lembaga Sosial Mabarot PBNU 2000-2005. (Agus Irawan).







