Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Ekbis · 24 Okt 2023 08:33 WIB ·

Industri Baja Berkontribusi Wujudkan Indonesia Emas 2045


Ilustrasi pabrik baja Perbesar

Ilustrasi pabrik baja

JAKARTA | Harian Merdeka

Industri baja memiliki peran penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Karena sektor ini berkontribusi dalam pembangunan seperti transportasi, otomotif, konstruksi, hingga energi.

“Industri baja memiliki peran vital dalam menyokong pertumbuhan ekonomi dan pengembangan beberapa industri penting lainnya, seperti energi, konstruksi, otomotif dan transportasi. Selain itu, industri baja juga merupakan salah satu sektor yang berperan penting pada perwujudan 4 pilar utama bagi pembangunan Indonesia Maju melalui visi Indonesia Emas 2045”, tutur Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang, saat mengukuhkan kepengurusan The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) periode 2023-2025, Jakarta, Senin (23/10/2023).

Produsen besi baja di Indonesia terus berupaya memaksimalkan produksinya untuk bisa memenuhi peningkatan konsumsi baja nasional. Produksinya meningkat sekitar 100 juta ton dengan nilai investasi US $100 miliar dan menyerap 2,5-3 juta lapangan kerja baru.
Meski ada peningkatan produksi,bukan berarti industri besi dan baja tanpa tantangan. Satu tantangan diantaranya, belum seimbangnya kapasitas produksi hulu, intermediate, dan industri hilir. Sehingga kebutuhan masih disuplai dari impor.

Tantangan lainnya, menurut Chairman IISIA Purwono Widodo, terkait dengan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI). Saat ini masih beredar produk baja tidak sesuai SNI beredar di pasar dalam negeri. IISIA bersama Kemenperin terus melakukan upaya maksimal dalam penerapan SNI untuk produk besi dan baja di hulu dan hilir.

Tantangan lain terkait dengan produk baja rendah emisi karbon atau dekarbonisasi. Ia menerangkan industri baja sebagai salah satu penumpang CO2 terbesar, dengan kontribusi sebesar 4,1% dari total emisi CO2 dunia, dan 3,2% dari semua gas rumah kaca.

Hal ini berarti industri baja telah menyumbang emisi sebesar 15% dari emisi semua industri, dengan sekitar 70% emisi berasal dari penggunaan bahan bakar langsung dan sisanya datang secara tidak langsung dari listrik dan panas.

“Industri baja sekarang ini biasanya memakai bahan baku yang fosil batu bara maupun bahan baku yang lain dan itu kemudian menghasilkan emisi CO2. Inilah PR yang terakhir bagi kami bisa menerima pembinaan dan bimbingan dari pemerintah,” jelasnya. (jr/you)

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Skandal Halal BGN Rp134 M, Maruli Rajagukguk: KPK Harus Segera Panggil PPK!

8 Mei 2026 - 15:44 WIB

Auditor BPK Tewas Terbakar : Apa yang sedang diaudit Haerul Saleh?

8 Mei 2026 - 13:55 WIB

Dirut Pupuk Kaltim: Perempuan Harus Jadi Penggerak Perubahan!

8 Mei 2026 - 13:47 WIB

Dari Tangerang untuk Aceh: Renovasi Tiga Masjid Pascabencana Jadi Simbol Solidaritas dan Harapan

8 Mei 2026 - 13:41 WIB

Viral Struk Pertalite: MataHukum Desak Bahlil Berhenti Bohongi Rakyat!

8 Mei 2026 - 13:31 WIB

Demer Pastikan BAKN DPR RI Kawal Keandalan Listrik Bali Demi Citra Wisata Dunia

7 Mei 2026 - 13:31 WIB

Trending di Nasional