JAKARTA | Harian Merdeka
Perum Bulog berencana mengubah sistem pembayaran dalam penugasan penyerapan gabah petani dari skema tunai menjadi nontunai. Menyikapi kebijakan tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengingatkan agar perubahan sistem tidak sampai menghambat target pengadaan beras nasional.
Amran menilai langkah digitalisasi yang dirancang Bulog merupakan upaya positif. Namun, ia menegaskan penerapannya harus fleksibel dan tidak dilakukan secara penuh.
“Bagus, tapi tidak boleh digitalisasi semua. Kalau kombinasi, boleh,” ujar Amran usai rapat koordinasi terbatas di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Senin (12/1/2026).
Menurut Amran, sistem pembayaran kombinasi antara tunai dan nontunai diperlukan untuk memastikan kelancaran penyerapan gabah di lapangan. Ia mengingatkan, hambatan teknis sekecil apa pun berpotensi mengganggu target pengadaan nasional.
“Karena mengantisipasi jangan macet. Kalau macet, kacau pengadaan kita,” tegasnya.
Tahun ini, Perum Bulog mendapat penugasan strategis untuk menyerap 4 juta ton gabah setara beras dari petani. Target tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan dan stabilitas pasokan beras nasional.
Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan bahwa perubahan sistem pembayaran dilakukan untuk meminimalkan praktik penyimpangan di lapangan, termasuk potongan liar oleh oknum.
“Untuk meminimalisir permainan oknum, Bulog akan mengubah sistem pembayaran dari tunai menjadi digital,” ujar Rizal.
Rizal mengakui penerapan pembayaran nontunai menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi petani di daerah yang belum terbiasa dengan sistem perbankan. Karena itu, Bulog menyiapkan pendampingan intensif agar proses transisi berjalan lancar.
Ia menegaskan Bulog akan menggandeng perbankan nasional, khususnya bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), untuk memberikan edukasi kepada petani.
“Kami akan sinergi dengan teman-teman perbankan Himbara. Pendampingannya supaya ini bisa berjalan simultan dan lancar. Kami akan panggil juga teman-teman perbankan nasional, Himbara khususnya, agar proses pembayaran digital ini memudahkan para petani,” kata Rizal.
Bulog menargetkan perubahan sistem pembayaran tersebut dapat meningkatkan transparansi, mempercepat proses transaksi, dan tetap menjaga kelancaran penyerapan gabah sesuai penugasan pemerintah. (kay/fj)







