Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Ekbis · 22 Feb 2024 14:29 WIB ·

Harga Beras Meroket, Inflasi Terkerek


Harga Beras Meroket, Inflasi Terkerek Perbesar

“Saat ini sudah ada masuk musim hujan di Indonesia tapi baru 70%, kalau di-compare tahun lalu Januari itu 77%. Ini lah yang membuat adanya pergeseran periode penanaman beras,”

JAKARTA | Harian Merdeka

Harga beras semakin tak terkendali di awal tahun 2024. Kondisi ini tentunya ikut mengerek inflasi. Dampaknya?
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S Budiman mengatakan, berdasarkan survei pantauan harga yang dilakukan BI, harga beras memang naik drastis pada sejumlah daerah. Harga beras di Nusa Tenggara Barat, misalnya, menyentuh Rp 12.947/kg, sedangkan harga beras di Kalimantan Tengah tembus Rp 18.800 per kilogram.
Kenaikan harga beras yang terkendali tentunya berdampak, Aida memaparkan dampak beras ke inflasi di bulan Januari 2024 mencapai mencapai 0,64%, hal itu menyebabkan komponen inflasi volatile food meningkat menjadi 7,22%.
“Saya sampaikan tiga hal pertama dampak beras ke inflasi, pada bulan Januari kemarin inflasi dia (beras) berdampak 0,64% month to month, ini dia bobotnya 3,43% kalau pakai SBH 2022 yg baru dikeluarkan BPS. Itulah yang menyebabkan Volatile food kita mencapai 7,22% inflasinya,” papar Aida dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (21/2).
Penyebab kenaikan harga beras, menurut Aida adalah kondisi cuaca El Nino yang mengganggu musim tanam padi di Indonesia. Meski saat ini sudah ada hujan yang turun, namun intensitasnya belum merata.
Alhasil musim tanam mengalami pergeseran, panennya pun bergeser. Tanpa ada produksi beras, maka harga beras menjadi tinggi.
“Saat ini sudah ada masuk musim hujan di Indonesia tapi baru 70%, kalau di-compare tahun lalu Januari itu 77%. Ini lah yang membuat adanya pergeseran periode penanaman beras,” tutur Aida.
Untuk mengantisipasinya, lanjut Aida, pemerintah melakukan penguatan cadang beras pemerintah (CBP). Sejauh ini stoknya dinilai sudah cukup untuk konsumsi nasional.
“Kemudian pemerintah memastikan hal tersebut dilakukan impor melalui kecukupan CBP-nya. CBP itu bulan Januari hampir 1,2 juta ton, artinya kecukupan pasokan itu ada,” beber Aida.
Pemerintah juga mengguyur pasar dengan beras murah SPHP dan juga memberikan bantuan pangan beras untuk masyarakat kelas bawah. Diharapkan langkah-langkah ini bisa menstabilisasi harga beras.
“Maka pemerintah melakukan SPHP dan juga operasi pasar stabilitas pasokan dan harga pangan dan penyaluran bantuan pangan beras, tahap 1 Januari sampai Maret. Dilanjutkan April sampai Juni,” jelas Aida. (jr)

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Manajemen Baru Pelindo Hasilkan Kepuasan Pelanggan Pelindo

30 April 2026 - 20:08 WIB

Produksi Solid Kuartal I 2026, PKT Catat Capaian 2,14 Juta Ton

29 April 2026 - 16:50 WIB

Forum Pemred Multimedia dan MitMe.id Jalin Kerjasama Strategis Monetisasi dan Penguatan Brand Media Nasional dan Daerah

28 April 2026 - 13:22 WIB

Pemerintah Genjot Digitalisasi Koperasi Desa

27 April 2026 - 13:33 WIB

Lurah Dedi : Koperasi Merah Putih Jurangmangun Barat Bangkitkan Ekonomi Masyarakat

24 April 2026 - 13:42 WIB

DJP Gencar Kejar Pajak di Sektor Digital, Jam Tangan hingga Rumah Mewah

21 April 2026 - 17:11 WIB

Trending di Ekbis