JAKARTA | Harian Merdeka
Pemerintah menargetkan penghentian impor solar mulai tahun ini seiring meningkatnya kapasitas produksi dalam negeri. Langkah tersebut diawali dengan penghentian impor solar CN 48, sementara solar CN 51 ditargetkan berhenti diimpor pada semester II 2026.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyebut kebijakan ini didukung oleh beroperasinya kilang terintegrasi Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan serta penerapan program mandatori biodiesel B40.
“Yang jelas, solar dalam negeri sudah tidak kita impor. Solar itu ada dua ya, C48 dan C51. Yang 48 dengan RDMP sudah tuntas, yang 51 masih perlu penambahan unit operasi lagi,” ujar Laode di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Laode menegaskan, kebijakan setop impor solar berlaku untuk seluruh SPBU, termasuk SPBU swasta. Ke depan, seluruh kebutuhan solar nasional akan dipasok dari kilang dalam negeri milik PT Pertamina.
“Semua, beli di kilang Pertamina. Kan nggak ada kilang lain selain Pertamina,” tegasnya.
Selain solar, pemerintah juga menargetkan penghentian impor bensin nonsubsidi pada 2027. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan, impor bensin RON 92, RON 95, dan RON 98 akan dihentikan, sementara bensin subsidi masih akan diimpor.
“Kemudian untuk 2026 ini juga telah kita merancang untuk 2027 tidak lagi kita melakukan impor bensin yang RON 92, 95, 98. Nah, ini kita akan selesaikan nanti di akhir 2027 supaya apa? Kita tidak lagi terlalu banyak mengimpor produk, tapi nanti yang kita kedepankan adalah kita impor adalah crude-nya,” kata Bahlil.
Bahlil juga menyampaikan rencana penghentian impor avtur pada 2027. Saat ini, Kementerian ESDM bersama Pertamina mengupayakan konversi surplus solar sekitar 1,4 juta kiloliter untuk dijadikan bahan baku avtur.
“Avtur juga demikian. Jadi avtur untuk 2026 sekarang kami dengan Pertamina bekerja keras agar kelebihan solar yang 1,4 juta dikonversi menjadi bahan baku dalam membangun avtur agar 2027 betul-betul kita sudah tidak melakukan impor avtur,” pungkas Bahlil. (kay/fj)







