JAKARTA | Harian Merdeka
Di tengah riuh angin perdebatan yang kadang menerpa, Sekjen Matahukum, Mukhsin Nasir, hadir membawa ketenangan. Dengan suara yang lembut namun tegas, ia mengajak kita semua untuk kembali menggunakan akal sehat dan hati yang bersih.
“Saudara-saudaraku, cobalah renungkan sejenak. Apa gunanya bagi hukum dan bagi negara jika kita terus menerus memutar kembali hal yang sudah selesai?” ujar Mukhsin dengan nada yang sangat mendalam, Jumat (17/4/2026)
Pria yang biasa disapa Daeng tersebut menyoroti isu yang belakangan kembali diangkat mengenai mantan Presiden Joko Widodo. Menurutnya, hal itu adalah urusan yang sudah tuntas dan tertutup rapat.
“Beliau sudah menyelesaikan amanah sebagai pemimpin bangsa. Selama beliau memimpin, sejak awal mengemban tugas hingga akhir masa bakti, segala hal termasuk soal legalitas dan tanggung jawab sudah dipikul oleh negara dan hukum Indonesia. Negara telah menjaminnya, dan itu sudah menjadi sejarah yang selesai,” tutur Daeng dengan bijak.
Daeng mengibaratkan, menggali hal yang sudah lewat itu ibarat mengaduk air yang sudah bening. Kata Daeng, hanya akan membuatnya menjadi keruh, dan yang paling menyedihkan, ia hanya akan menggoreskan luka yang sudah kering, serta memecah belah tali persaudaraan yang sudah kita jaga bertahun-tahun.
Berpikirlah dengan Hati, agar Jiwa pun Tenang
“Kita ini manusia yang diberi akal dan hati. Mari berpikir sederhana, berpikir dewasa,” ajak Daeng lembut.
Masih begitu banyak hal yang indah, yang penting, yang mulia untuk kita perjuangkan bersama. Jangan biarkan energi berharga kita habis hanya untuk memunguti pecahan masa lalu yang tidak akan pernah mengubah apa pun.
“Alihkanlah pandanganmu ke depan. Arahkanlah perhatianmu untuk mengawal pemimpin yang sekarang sedang memegang tampuk kekuasaan. Lihatlah dengan mata yang terbuka, bagaimana mereka berusaha bekerja, berubah menjadi lebih baik, dan berusaha menepati setiap janji yang diucapkan kepada rakyat,” serunya dengan penuh harap.
Lihatlah hasilnya sekarang. Rakyat bisa tidur nyenyak, hidup aman, tentram, dan damai tanpa rasa gelisah. Itu adalah bukti nyata bahwa pemimpin bangsa ini berkelas, memiliki jiwa negarawan yang besar, dan bukan sosok yang kaleng-kaleng yang hanya bisa membuat gaduh.
Pesan Terakhir: Untuk Indonesia yang Bersatu dan Berbahagia yang paling utama, pesan ini adalah cinta untuk persatuan.
Menurut Daeng, kita ini satu darah, satu tanah air, satu nafas. Perbedaan pendapat itu biasa, tapi jangan sampai menjadi benih kebencian yang memisahkan kita. Menurut Daeng, membahas hal-hal yang sudah lewat hanya akan membuka luka lama, menyakiti hati sanubari, dan menghambat laju pembangunan.
Negeri ini butuh kita semua untuk bersatu, bahu-membahu, saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Mari kita jaga kerukunan seperti mata kepala kita sendiri. Mari kita kawal kebaikan, dan dukung apa yang sedang dibangun demi anak cucu kita kelak.
“Karena persatuan adalah harga mati. Karena kedamaian adalah anugerah terindah. Mari kita melangkah ke depan dengan kepala tegak, hati yang ikhlas, dan semangat persaudaraan yang kokoh,” pungkas Mukhsin Nasir dengan penuh ketulusan, Salam Akal Sehat (Egi)







