JAKARTA | Harian Merdeka
Sebagai salah satu sinergi antara polisi dan masyarakat, Polres Metro Jakarta Selatan (Polres Jaksel) mendukung Kelurahan Pondok Labu, Cilandak untuk menjadi kampung tangguh antinarkoba.
“Karena kita tahu bahwa narkoba itu adalah musuh bersama,” kata Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Nicolas Ary Lilipaly di Pondok Labu Jakarta, kemarin.
Lebih lanjut Nicolas mengatakan, pada satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Polri berhasil memberantas atau menangani narkoba sebanyak 214 ton.
Maka itu, penting peran masyarakat sebagai wujud nyata untuk membantu polisi memberantas narkoba di lingkungan masing-masing.
“Kami sangat berharap ada kolaborasi di antara pihak Polres Metro Jaksel dengan warga Pondok Labu ini khususnya intervensi berbasis masyarakat (IBM) dan juga relawan antinarkoba,” ucapnya.
Ditekankan, tugas pokok Polri yakni upaya preemtif, preventif, dan represif. Preemtif yaitu menyentuh hati warga untuk memberikan kesadaran dampak negatif penyalahgunaan narkoba yang akan merusak lingkungan dan juga pribadi para pelaku narkoba itu sendiri.
Kemudian, upaya preventif yakni melalui sosialisasi kampanye-kampanye antinarkoba melalui masyarakat yg tergabung dalam kelompok relawan seperti IBM.
“Lalu, tindakan represif itu upaya pemberantasan, penegakan hukum terhadap penyalahgunaan itu sendiri,” ucapnya.
Ke depannya, Polres Metro Jakarta Selatan akan terus melakukan patroli dan sosialisasi terkait pencegahan penggunaan narkoba di wilayah itu.
Kampung tangguh antinarkoba di Pondok Labu, Jakarta Selatan telah berdiri sejak 2022 dengan dipelopori kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan narkoba.
BNN RI mencatat Jakarta menjadi titik episentrum peredaran gelap narkoba dengan tingkat prevalensi penyalahguna mencapai 3,3 persen atau setara dengan 132 ribu jiwa hingga awal 2025.
Berdasarkan data dan pemetaan yang dilakukan, terdapat 112 kawasan rawan narkoba di Provinsi DKI Jakarta.
Sebagai bentuk penanganan, BNN Provinsi menyampaikan saat ini terdapat empat klinik yang diketahui telah memberikan layanan rehabilitasi kepada 1.150 penyalahguna di DKI Jakarta.
Kemiskinan dimanfaatkan oleh para bandar untuk membentuk patron-patron sosial baru.(jr)







