JAKARTA | Harian Merdeka
William Tristan Mahendra, siswa kelas IX Victory Plus Indonesia, meraih penghargaan best delegate dalam ajang Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) ke-20 yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia. Penghargaan ini diberikan kepada peserta yang dinilai paling menonjol dalam keterampilan diplomasi, kekuatan argumentasi, serta penguasaan isu-isu global.
AYIMUN merupakan forum simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berskala internasional yang mempertemukan pelajar dan mahasiswa berusia 11 hingga 25 tahun dari berbagai negara. Ajang ini menjadi ruang kompetitif sekaligus diplomatik bagi generasi muda untuk membahas persoalan dunia melalui mekanisme multilateral.
“Mengikuti AYIMUN memberi saya kesempatan untuk memperdalam pemahaman tentang diplomasi multilateral sekaligus mengasah kemampuan analisis, kepemimpinan, dan perumusan kebijakan internasional,” kata William dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa.(27/1/2026)
Dalam kompetisi tersebut, William berperan sebagai delegasi Inggris di forum UNICEF Junior Council. Dewan ini membahas isu Ensuring the Protection of Children in the Entertainment and Digital Media Industries, dengan fokus pada ancaman nyata terhadap anak di ruang digital.
William secara tegas menyoroti bahaya paparan konten negatif bagi anak, risiko eksploitasi daring, serta lemahnya sistem verifikasi usia pada berbagai platform digital. Ia menilai persoalan ini tidak bisa diserahkan pada satu pihak semata.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perusahaan teknologi, keluarga, dan organisasi internasional untuk membangun ekosistem digital yang aman dan berpihak pada perlindungan anak.
Sebelum tampil di forum internasional tersebut, William menjalani persiapan intensif dengan mempelajari isu-isu global, menyusun position paper, serta melatih teknik diplomasi dan negosiasi. Upaya tersebut menjadi fondasi kuat dalam menyampaikan gagasan dan mempertahankan posisi di tengah forum multinasional.
Pada tahun 2026, konferensi AYIMUN mengusung tema “Diplomacy in Distress: Steering the World Through Crisis and Change.” Tema ini menantang para delegasi muda untuk merespons krisis global yang kian kompleks melalui pendekatan diplomatik.
Partisipasi William tidak hanya menjadi pencapaian personal, tetapi juga menegaskan kapasitas generasi muda Indonesia dalam berkontribusi terhadap isu-isu global, khususnya perlindungan anak di era digital.
Prestasi tersebut sekaligus memperpanjang torehan gemilang William dengan meraih best delegate untuk ketiga kalinya secara berturut-turut di ajang internasional, setelah sebelumnya meraih penghargaan serupa di Seoul, Korea Selatan; Bali, Indonesia; dan Kuala Lumpur, Malaysia.(tfk/con)







