Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Nasional · 10 Jul 2026 14:42 WIB ·

Tolak Bangunan 45 Meter di Bali, Gde Sumarjaya Linggih: Moratorium Hotel Solusinya!


Tolak Bangunan 45 Meter di Bali, Gde Sumarjaya Linggih: Moratorium Hotel Solusinya! Perbesar

Denpasar | Harian Merdeka

Anggota DPR RI Gde Sumarjaya Linggih alias Demer menolak tegas wacana perubahan batas ketinggian bangunan di Bali dari 15 meter menjadi 45 meter. Menurutnya, kebijakan tersebut bukan solusi untuk menyelamatkan lahan pertanian maupun mengurangi kepadatan pembangunan di kawasan Bali Selatan. Pantai& Kepulauan

Sebaliknya, dia mendorong pemerintah memberlakukan moratorium pembangunan akomodasi wisata di wilayah Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan).

Ketua DPD I Golkar Bali ini menilai, persoalan utama bukan terletak pada tinggi bangunan, melainkan masih terpusatnya aktivitas pariwisata di wilayah Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Sarbagita).

“Kue pariwisata masih terpusat di sana, mengubah batas ketinggian tidak otomatis menyelamatkan lahan sawah kita,” ujar Demer saat dikonfirmasi, Kamis (9/7).

Menurutnya, langkah yang lebih tepat adalah memberlakukan moratorium pembangunan akomodasi wisata di Bali Selatan. Selama pembangunan hotel dan akomodasi wisata masih terus berlangsung di kawasan tersebut, upaya menyelamatkan lahan pertanian dinilai sulit diwujudkan.

“Selama moratorium belum dilakukan mustahil bisa menyelamatkan lahan dan mengurangi kepadatan di Bali Selatan,” kata Anggota Komisi VI DPR RI ini.

Demer juga mengingatkan dampak lain yang ditimbulkan dari masifnya pembangunan di Bali Selatan, yakni semakin terdesaknya masyarakat lokal akibat tingginya harga lahan. Kondisi itu, menurutnya, berpotensi mengancam keberlangsungan adat dan budaya Bali.

“Lahan yang semakin mahal membuat warga di Bali Selatan semakin terdesak. Jika tidak ada warganya, otomatis adat budaya Bali perlahan akan hilang,” ungkap politisi asal Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng yang juga pernah menjadi Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Bali (2010-2015) ini. (Egi)

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Mantan Branch Manager MNC Bank, Saidah Sussy Ditahan Polisi, Diduga Gelapkan Dana Perusahaan

10 Juli 2026 - 14:54 WIB

Skandal KUR Fiktif BNI Jember: 900 Identitas Petani Dicatut, Negara Rugi Rp41,4 Miliar

10 Juli 2026 - 14:49 WIB

Rano Alfath Dukung Kortastipidkor Polri Bongkar Kasus Korupsi yang Jadi Atensi Presiden

10 Juli 2026 - 13:44 WIB

Sufmi Dasco Sampaikan Belasungkawa: Indonesia Kehilangan Sosok Rachmat Gobel

10 Juli 2026 - 13:40 WIB

OTT ke-16 di Tahun 2026: Bupati Sukoharjo Etik Suryani dan 4 Orang Lainnya Dibawa ke Jakarta

10 Juli 2026 - 13:34 WIB

Pesan Presiden Prabowo ke Aparatur Negara: Jangan Coba-Coba Korupsi, Segera Bersihkan Diri!

10 Juli 2026 - 13:26 WIB

Trending di Nasional