Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Opini · 19 Agu 2025 11:16 WIB ·

Asta Cita dan Perang Melawan Narkotika: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati, Mewujudkan Indonesia Emas 2045


Asta Cita dan Perang Melawan Narkotika: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati, Mewujudkan Indonesia Emas 2045 Perbesar

TANGERANG | Harian Merdeka

Oleh Ketua Umum Lembaga Anti Narkotika
Sultan Rusdal F. Inayatsyah

Alhamdulillāh, bangsa Indonesia hari ini menapaki 80 tahun kemerdekaan. Usia delapan dekade bukan sekadar angka, melainkan simbol perjalanan panjang penuh pengorbanan, doa, dan perjuangan. Para pahlawan telah menebus kemerdekaan ini dengan darah dan air mata. Tugas kita sekarang adalah menjaga serta mengisi kemerdekaan dengan karya nyata demi kejayaan bangsa.

Namun kita juga harus jujur: kemerdekaan sejati belum sepenuhnya kita raih. Ancaman narkotika telah menjadi penjajahan gaya baru yang merusak generasi, menghancurkan moral, dan melemahkan ketahanan bangsa dari dalam. Bila dibiarkan, maka cita-cita menuju Indonesia Emas 2045 akan terancam. Karena itu, perang melawan narkoba bukan hanya isu kesehatan atau hukum, melainkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan bangsa.

Dalam momentum refleksi 80 tahun ini, saya menegaskan bahwa perjuangan melawan narkotika harus sejalan dengan arah pembangunan nasional yang telah dituangkan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam Asta Cita:

  1. Memperkokoh ideologi Pancasila, demokrasi, dan HAM.
    Perang melawan narkoba adalah menjaga martabat kemanusiaan sesuai nilai Pancasila.
  2. Memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, hijau, dan biru.
    Bangsa yang sehat dan bebas narkoba adalah benteng pertahanan sekaligus motor kemandirian nasional.
  3. Meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, kewirausahaan, industri kreatif, dan infrastruktur.
    Generasi terbebas dari narkoba adalah generasi produktif, inovatif, dan berdaya saing.
  4. Memperkuat pembangunan SDM, sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, olahraga, kesetaraan gender, serta peran pemuda, perempuan, dan penyandang disabilitas.
    SDM unggul hanya lahir dari generasi sehat jasmani dan rohani, jauh dari narkoba.
  5. Melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi untuk nilai tambah di dalam negeri.
    Industrialisasi membutuhkan tenaga kerja yang kuat, berintegritas, dan bebas dari narkoba.
  6. Membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan.
    Desa yang terbebas dari narkoba akan menjadi fondasi ekonomi nasional yang adil dan sejahtera.
  7. Memperkuat reformasi politik, hukum, dan birokrasi serta memperkuat pencegahan dan pemberantasan korupsi dan narkoba.
    Pemberantasan narkoba adalah bagian langsung dari reformasi hukum demi terciptanya tata kelola pemerintahan yang bersih.
  8. Memperkuat kehidupan harmonis dengan lingkungan, alam, budaya, serta meningkatkan toleransi antarumat beragama.
    Generasi bebas narkoba adalah generasi yang menjaga budaya luhur, hidup rukun, dan membangun harmoni sosial.

Saudara sebangsa dan setanah air, inilah refleksi kita: kemerdekaan sejati baru akan terwujud bila bangsa ini juga merdeka dari narkoba. Dengan semangat Asta Cita, mari kita satukan langkah, bersatu melawan narkoba, dan bersama membangun Indonesia yang adil, makmur, berdaulat, dan bermartabat.

Hanya dengan generasi yang sehat, cerdas, dan berintegritas, bangsa ini dapat benar-benar mewujudkan Indonesia Emas 2045 — sebuah Indonesia yang kuat dalam ekonomi, tangguh dalam budaya, berwibawa di mata dunia, dan sejahtera bagi seluruh rakyatnya.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-80.
Jayalah bangsaku, jayalah negeriku, jayalah Indonesiaku!

Artikel ini telah dibaca 21 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Suwardi Thahir dan Kerinduan Wartawan pada Pemimpin yang Merangkul

5 Juni 2026 - 10:52 WIB

Urgensi Reshuffle Menteri ESDM Bahlil

7 April 2026 - 16:43 WIB

Sedikit Kegembiraan Di Tengah Kecemasan Catatan Hendry Ch Bangun

20 Januari 2026 - 11:56 WIB

Bijaksana Mengelola Potensi Energi Ketika Tatanan Global Porak Poranda

14 Januari 2026 - 15:19 WIB

Pantaskah Soeharto Dinobatkan Sebagai Pahlawan Nasional?

9 November 2025 - 18:44 WIB

Apakah Sumpah Pemuda 1928 Masih Relevan di Era Digital?

28 Oktober 2025 - 12:28 WIB

Trending di Opini