Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Hukum · 11 Mar 2026 12:50 WIB ·

Aktivis Anti-Korupsi Desak Kejagung Usut Tuntas Dugaan Suap di Pilkada Kota Bogor


Aktivis Anti-Korupsi Desak Kejagung Usut Tuntas Dugaan Suap di Pilkada Kota Bogor Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Dugaan praktik curang dalam penyelenggaraan Pilkada Kota Bogor 2024 resmi bergulir ke ranah pidana khusus Kejaksaan Agung Republik Indonesia. Isu ini bermula dari temuan aliran dana miliaran rupiah yang diduga digunakan untuk mengintervensi hasil pemilu demi memenangkan pasangan calon tertentu. Kasus ini mencuat setelah Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) menjatuhkan sanksi pemberhentian tetap kepada Muhammad Habibi dari jabatan Ketua KPU Kota Bogor atas pelanggaran etik berat terkait gratifikasi.

Bukti Terang Benderang, Menanti Nyali Kejaksaan
Laporan resmi dengan nomor 010/GAGAK/III/2026 diserahkan langsung oleh Gabungan Gerakan Anti Korupsi (GAGAK) Bogor dan Kesatuan Mahasiswa Nasional (KMN) kepada Jampidsus Kejaksaan Agung pada Selasa, 10 Maret 2026. Sekjen GAGAK, Agus Suryaman, menegaskan bahwa konstruksi kasus ini sudah sangat kuat berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan etik.

“Kasus ini sudah terang benderang. Putusan DKPP dan bukti-bukti lapangan yang kami serahkan telah menunjukkan adanya aroma rasuah yang sangat menyengat. Sekarang tinggal bagaimana keberanian dan nyali Aparat Penegak Hukum (APH), khususnya Jampidsus, untuk membongkar tuntas hingga ke akar-akarnya,” tegas Agus Suryaman di Gedung Bundar Kejagung, Jakarta.

Dugaan Korupsi Berjamaah dan “Uang Bom”
Dalam dokumen laporannya, GAGAK memaparkan rangkaian fakta yang diduga melibatkan konspirasi antara penyelenggara pemilu dan peserta pilkada:

Aliran Dana Fantastis: Terjadi dugaan penyerahan uang tunai secara bertahap dengan total mencapai Rp3,2 miliar hingga Rp3,7 miliar dari pihak pasangan calon nomor urut 05, dr. Rayendra.

Operasi Serangan Fajar: Dana tersebut diduga dialokasikan sebagai “Uang Bom” sebesar Rp2 juta per amplop untuk menyuap penyelenggara di tingkat PPS dan KPPS guna mengamankan suara.

Pencurian Data: Adanya dugaan penyerahan 15.000 data pemilih (DPT) secara ilegal untuk kepentingan pemenangan paslon tertentu.

Tuntutan: Periksa Seluruh Komisioner dan Pihak Terkait
Agus Suryaman mendesak agar Kejaksaan Agung tidak hanya berhenti pada sosok yang telah dipecat oleh DKPP. Menurutnya, praktik sebesar ini tidak mungkin dilakukan oleh satu orang saja secara terisolasi.

“Kami meminta Jampidsus untuk memeriksa secara menyeluruh seluruh Komisioner KPU Kota Bogor tanpa terkecuali. Penyelidikan juga harus menyasar pihak pemberi dana serta para kurir yang terlibat dalam transaksi haram di Gardenia Hill tersebut. Jangan sampai ada aktor intelektual yang lolos dari jeratan hukum,” tambah Agus.

GAGAK juga menuntut dilakukan asset tracing terhadap pihak-pihak terlapor untuk melacak muara dari aliran dana gratifikasi ini. Tindakan tegas dari Kejaksaan Agung sangat dinantikan sebagai pesan keras bahwa integritas demokrasi di Indonesia tidak bisa diperjualbelikan oleh kekuatan modal. (Egi)

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

IKA PMII Pakuan: Penataan Wali Kota Bogor Jangan Cekik Ekonomi Rakyat

17 April 2026 - 12:12 WIB

Denny Charter: Kejaksaan Lebih Mumpuni, Saatnya KPK Dibubarkan

17 April 2026 - 12:10 WIB

Bantah Halangi Wartawan, Oknum Guru di Nias : Saya Justru Ditekan

17 April 2026 - 12:08 WIB

Dampingi Pemkot Tangsel , Kejari Berharap Cegah Pengelolaan Penyimpangan Anggaran

17 April 2026 - 12:06 WIB

Jadi Tersangka, Kejagung Tahan Ketua Ombudsman Hery Susanto

17 April 2026 - 12:02 WIB

Soal Pemberitaan Tempo, Nasdem Jabar Ingat Etika Pers dan Kepatutan Ruang Publik

17 April 2026 - 11:58 WIB

Trending di Politik