NIAS | Harian Merdeka
Delapan tahun silam sejak program Nias Terang digaungkan pada 2017, warga Kepulauan Nias masih hidup dalam ketidakpastian pasokan listrik. Pemadaman terjadi nyaris setiap hari, tanpa jadwal jelas, menegaskan jarak lebar antara janji tanggungjawab negara dan realitas pelayanan PT PLN (Persero) UP3 Nias.
Alih-alih membaik, kondisi kelistrikan justru stagnan. Listrik padam berulang, kadang lebih dari sekali dalam sehari. Ironisnya, pelanggan kini menggunakan sistem prabayar, yang mengharuskan pembayaran di muka sebelum listrik digunakan.
“Kita bayar dulu, baru pakai. PLN aman secara keuangan. Tapi listrik tetap padam. Ini jelas merugikan masyarakat,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Firman Zebua, warga Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, meluapkan kekecewaan mendalam terhadap kinerja PLN Area Nias. Ia menuding institusi tersebut beserta lingkaran internalnya telah menjelma menjadi “raja spekulan” yang lihai memanfaatkan pemadaman listrik sebagai dalih untuk mengutak-atik anggaran pemeliharaan jaringan, seolah-olah bekerja, padahal penderitaan pelanggan diabaikan.
Menurut Firman, pemadaman listrik terjadi tanpa pola dan tanpa penjelasan. Di lapangan, petugas terlihat bekerja dengan penerangan senter mondar mandir, sementara mesin pembangkit tetap menyala. Lebih ironis lagi, warga yang bermukim di sekitar kawasan pembangkit menyaksikan langsung pembangkit beroperasi normal, namun listrik di rumah mereka tetap padam berjam-jam.
“Kami sering menyaksikan, mesin pembangkit hidup, tapi rumah warga sekitar tetap gelap,” ujar Firman, Minggu (14/12/2025). Ia mempertanyakan kompetensi sekaligus integritas manajemen jaringan PLN UP3 Nias, yang dinilainya sarat akal-akalan dan jauh dari prinsip pelayanan publik.
Firman menegaskan, publik tidak membutuhkan jurus retorika atau alasan klise tingkat tinggi. Yang dibutuhkan adalah kejujuran, profesionalisme, dan tanggung jawab nyata atas hak dasar masyarakat, listrik yang andal dan berkeadilan.
Kritik lebih tajam disampaikan Taufik Gulo, pengamat kebijakan publik. Menurut dia, dalih gangguan alam, cuaca ekstrem, dan pohon tumbang telah menjadi mantra rutin PLN UP3 Nias setiap kali listrik padam.
“Itu alasan usang. Kalau pemeliharaan berjalan, pembersihan jalur jaringan dilakukan rutin, pemadaman bisa dicegah,” pungkasnya.
Taufik Gulo, yang juga mantan anggota DPRD Kabupaten Nias Barat itu menduga ada masalah serius dalam pengelolaan anggaran pemeliharaan jaringan. Ia menilai perlu audit menyeluruh untuk memastikan apakah belanja pemeliharaan benar-benar dijalankan atau sekadar formalitas administratif.
“Kalau anggaran besar tapi hasilnya nihil, publik berhak curiga. Jangan-jangan pengadaan dan pemeliharaan hanya proyek di atas kertas,” kata dia.
Di wilayah 3T seperti Kepulauan Nias, listrik bukan sekadar fasilitas, melainkan kebutuhan dasar yang menentukan denyut ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan. Ketika listrik terus padam, dampaknya berlapis dan sistemik.
Namun hingga kini, respons PLN UP3 Nias pun tak beranjak dari pola lama : cuaca, alam, dan pohon tumbang. Tanpa peta jalan perbaikan yang jelas, janji Nias Terang kian terdengar sebagai slogan kosong sementara rumah-rumah warga terus tenggelam dalam gelap.
Bahkan, dugaan praktik monopoli pemenang tender dalam beberapa tahun terakhir yang mengarah pada satu perusahaan (vendor) tidak pernah dijelaskan secara transparan oleh manajemen PT PLN UP3 Nias kepada publik, dan justru terkesan ditutup-tutupi.(adi).
Foto : Kantor PT PLN (Persero) UP3 Nias, Jalan Gomo Kelurahan Pasar, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara.







