JAKARTA I Harian Merdeka
Eks Wakil Ketua Badan Pemeriksa Keuangan, Hendra Susanto, mengakui namanya kerap dicatut atau “dijual” oleh pihak tertentu.
Menyikapi hal itu, Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) mendesak agar dugaan tersebut dibongkar secara tuntas melalui proses hukum.
Direktur Eksekutif CERI, Yusri Usman, mengatakan pihaknya mendukung langkah Hendra untuk melaporkan dugaan pencatutan nama dan pengaturan tender di sektor migas kepada aparat penegak hukum (APH).
Ia juga meminta agar Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan aparat penegak hukum turut menelusuri indikasi praktik persaingan usaha tidak sehat.
Menurut Yusri, pengusutan perlu dilakukan secara menyeluruh, terutama terkait dugaan pengondisian proyek di lingkungan Pertamina dan salah satunya bank himbara terkait penyalahgunaan proses kreditnya.
Ia mengungkapkan, Gita Natalius pernah datang pada akhir Juli 2025 di kantornya di kawasan Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Dalam pertemuan itu, Yusri mengklaim Gita tidak membantah berbagai tudingan beredar.
“Dengan nada sedih dan ada saksinya, dia tidak membantah apa pun terkait informasi yang berkembang,” ujar Yusri.
Yusri juga mengaku telah mewawancarai beberapa orang anak buah Gita Natalius untuk menggali informasi terkait aktivitas di sektor migas.
Hasilnya, kata dia, akan disampaikan kepada aparat penegak hukum, tunggu saja.
“Setidaknya ada tiga orang anak buahnya yang sudah saya wawancarai berhari-hari. Ini akan saya sampaikan ke penegak hukum,” katanya, Minggu (3/4/2026).
Menurut keterangan anak buah Gita Natalius, sebut Yusri, sebenarnya acara pertemuan santai dengan Hendra dan anak buahnya bukan sekali saja.
Minta Dilaporkan ke APH
Hendra Susanto sebelumnya menegaskan tidak mengetahui adanya pencatutan namanya dan tidak memiliki kepentingan dalam proses pemenangan proyek apa pun, baik di lingkungan Pertamina maupun SKK Migas.
“Nama saya sering digunakan oleh oknum tertentu untuk kepentingan pribadi mereka,” ujar Hendra saat dikonfirmasi Riau Satu, pada Sabtu siang, 2 Mei 2026.
Ia juga meminta agar setiap pihak yang menemukan praktik pencatutan nama tersebut segera melaporkannya kepada aparat penegak hukum.
“Kalau ada yang menjual nama saya, mohon diabaikan saja,” katanya.
Menjawab pertanyaan terkait Gita Natalius, Hendra mengaku pernah bertemu satu kali di Bandung saat diajak seorang rekannya berkunjung ke vila milik Gita.
Dalam pertemuan tersebut, Gita sempat menawarkan sapi kurban secara cuma-cuma, namun ditolak oleh Hendra.
Gita Natalius Bungkam
Dikonfirmasi Riau Satu baik via telepon selular maupun pesan WhatsApp, pada Jumat, 1 Mei 2026, Gita Natalius tidak mengangkat gadget-nya dan membalas pertanyaan yang dikirim, sampai berita ini di-posting.
Pun ketika dicoba minta tolong kepada Danny Effendy —Direktur PT Gemilang Pratama Polykem di mana Gita Natalius sebagai komisaris— agar disampaikan konfirmasi media ini, namun tidak direspon sampai berita ini tayang.
Lebih lanjut Yusri mengatakan, Gita Natalius diduga mengaku sebagai pejabat BPK saat berada di area penerima tamu kantor Pertamina.
“Menurut sumber saya, setiap pagi sekitar pukul tujuh, dia rutin ke kantor BPK sebelum beraktivitas ke Pertamina dan SKK Migas, sorenya ke rumah-rumah pejabat BPK, entah benar atau tidak informasi itu sebaiknya Gita merespon konfirmasi oleh media jauh lebih baik daripada bungkam” demikian Yusri. (Agus).







