Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Hukum · 19 Jul 2026 13:06 WIB ·

Potret Pilu Salim Sugiharto, Abah Elang: Tanah Diklaim Sejak 1979, Kini Justru Hadapi Proses Hukum


Potret Pilu Salim Sugiharto, Abah Elang: Tanah Diklaim Sejak 1979, Kini Justru Hadapi Proses Hukum Perbesar

Jakarta | Harian Merdeka

Dugaan kejanggalan dalam proses hukum yang menimpa Salim Sugiharto, seorang wiraswasta asal Rangkas Bitung, Banten, memicu reaksi keras dari berbagai kalangan. Kasus sengketa lahan ini kini menjadi sorotan setelah ditemukan adanya perubahan status amar putusan kasasi Nomor 175 K/PID/2026 pada sistem Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Mahkamah Agung sebanyak tiga kali dalam kurun waktu yang singkat.

Salim Sugiharto, yang sebelumnya telah menempuh jalur hukum terkait sengketa lahan di Kapuk Muara, Jakarta Utara, kini menghadapi persoalan terkait prosedur peradilan yang dinilai tidak transparan. Tim kuasa hukumnya dilaporkan telah melayangkan surat permohonan perlindungan hukum kepada Komisi III DPR RI untuk menelusuri kejanggalan tersebut.

Menyikapi hal ini, Elang Mangkubumi, tokoh masyarakat Banten, menyatakan keprihatinannya atas nasib Salim Sugiharto yang merupakan warga asal Rangkas Bitung. Ia menegaskan bahwa masyarakat Banten menaruh perhatian besar terhadap isu keadilan hukum yang menimpa warganya.

“Sebagai putra daerah, saya terpanggil untuk menyuarakan ketidakadilan yang dialami Saudara Salim Sugiharto. Apa yang terjadi pada beliau ini mencerminkan potret buram penegakan hukum kita. Kami di Banten tidak akan tinggal diam melihat seorang warga, apalagi yang sudah lanjut usia, diperlakukan seperti ini dalam proses hukum yang penuh dengan keanehan dan perubahan amar putusan yang tidak masuk akal,” ujar Elang Mangkubumi.

Elang menambahkan bahwa ia mendesak Komisi III DPR RI untuk segera mengambil langkah konkret. “Kami menuntut agar Komisi III DPR RI tidak menutup mata. Panggil pihak-pihak terkait, mulai dari Kepolisian hingga pimpinan Mahkamah Agung. Jangan sampai sistem hukum kita dikendalikan oleh pola-pola yang mencederai rasa keadilan masyarakat. Masyarakat Banten menunggu kepastian hukum atas kasus ini,” tegasnya.

Perlu dicatat, kasus ini bermula dari sengketa lahan yang diklaim telah dikuasai Salim sejak 1979. Persoalan hukum yang ia hadapi kemudian berkembang menjadi rangkaian laporan polisi yang dipandang oleh banyak pihak sebagai upaya kriminalisasi melalui “penuntutan berulang” (ne bis in idem).

Hingga berita ini diturunkan, upaya hukum terus dilakukan oleh pihak keluarga dan kuasa hukum Salim Sugiharto melalui jalur konstitusional ke lembaga perwakilan rakyat. Langkah ini diambil sebagai bentuk pengawasan publik terhadap transparansi dan integritas proses peradilan di Indonesia, dengan harapan agar pihak-pihak terkait dapat memberikan penjelasan atas berbagai kejanggalan administratif yang ditemukan dalam sistem informasi perkara. (Egi)

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Temui Kajati Banten, Kapolda Irjen Hengki Sepakat Tingkatkan Penerapan Restorative Justice

16 Juli 2026 - 17:33 WIB

Desak Pengusutan Proyek Kipas Angin 1,8 Triliun, MataHukum: Dirut PT Agrinas Harus Segera Ditangkap!

16 Juli 2026 - 13:41 WIB

Janji Jaksa Agung “Tanpa Ruang bagi Jaksa Nakal” Dinilai Gagal, Mata Hukum: Arang Itu Mencoreng Wajah Sendiri

15 Juli 2026 - 14:42 WIB

Temuan BBM Rp2,2 Miliar di Dishub & DLH Kab.Serang: Aktivis Desak Penegak Hukum Bertindak

15 Juli 2026 - 14:40 WIB

Tuntut Klarifikasi Kasus Pelecehan, Mahasiswa Serukan Evaluasi Operasional Ajwa Tour Indonesia

15 Juli 2026 - 11:10 WIB

Aliran Uang Proyek Kereta Api Mengalir ke Bos Rokok, KPK Kejar Peran Muhammad Suryo

15 Juli 2026 - 11:01 WIB

Trending di Hukum