Menu

Mode Gelap
Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi Isra Miraj Jadi Momentum Pertobatan Ekoteologis, Menag Ajak Umat Berhenti Merusak Alam

Politik · 7 Jan 2026 13:14 WIB ·

Putar Haluan di Pilkada, Langkah Partai Demokrat Dinilai Uji Warisan Politik Susilo Bambang Yudhoyono


Putar Haluan di Pilkada, Langkah Partai Demokrat Dinilai Uji Warisan Politik Susilo Bambang Yudhoyono Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Pengamat politik menilai keputusan Partai Demokrat balik badan dengan mendukung wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD mencerminkan pilihan politik yang menempatkan kepentingan posisi kekuasaan saat ini di atas konsistensi historis partai.

Menurut Arifki, sikap Demokrat tersebut berpotensi bertabrakan dengan legacy politik Susilo Bambang Yudhoyono, yang pada 2014 secara terbuka menolak Pilkada via DPRD dengan Perppu dan memilih mempertahankan mekanisme Pilkada langsung. Perubahan sikap ini dinilai bukan sekadar koreksi kebijakan, melainkan keputusan strategis untuk menyesuaikan diri dengan arus besar koalisi pemerintahan.

“Demokrat terlihat lebih memilih menjaga keberlanjutan posisinya di dalam orbit kekuasaan nasional ketimbang mempertahankan sikap lama yang pernah menjadi identitas politik partai. Ini pilihan rasional secara jangka pendek, tapi mahal secara simbolik,” ujar Arifki, kepada wartawan, Selasa (6/1/2026).

Ia menambahkan, dengan mayoritas partai di parlemen kini mendukung Pilkada lewat DPRD, ruang manuver Demokrat untuk mengambil posisi berbeda memang semakin sempit. Namun konsekuensinya, partai berlambang mercy itu dinilai berisiko kehilangan narasi moral yang selama ini melekat, khususnya terkait komitmen pada demokrasi elektoral.

“Dalam konteks ini, Demokrat tidak sedang mempertaruhkan figur, melainkan arah partai. Yang dipilih adalah tetap berada di lingkar kekuasaan, meski harus membayar harga berupa pudarnya kesinambungan sikap politik masa lalu,” pungkasnya.

Arifki menilai, jika tidak diiringi narasi politik yang kuat dan penjelasan terbuka ke publik, dukungan Demokrat terhadap Pilkada via DPRD berpotensi dibaca sebagai pelepasan nilai historis yang selama ini menjadi pembeda partai.

“Secara jangka pendek Demokrat aman berada di barisan mayoritas. Tapi secara jangka panjang, partai ini harus menjawab satu hal: apa lagi identitas politik Demokrat jika warisan sikap lama soal demokrasi elektoral ikut ditinggalkan,” tutupnya.(Agus).

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Nasib Kelakar Politik: Mengapa Pernyataan Bahlil Soal Lailatul Qadar Berisiko Seperti Satire Pandji?

9 Maret 2026 - 13:21 WIB

Bentuk Solidaritas Internasional, PSI Sampaikan Duka Cita atas Wafatnya Pemimpin Iran

9 Maret 2026 - 13:11 WIB

Membedah Narasi Persatuan Nasional: Mengapa Seruan Dasco Penting bagi Kepemimpinan Prabowo?

9 Maret 2026 - 12:49 WIB

Darurat Ketahanan Energi: Forsiber Peringatkan Pemerintah Soal Minimnya Persiapan Hadapi Krisis BBM

6 Maret 2026 - 15:47 WIB

Di Balik Rapor Saham Menteri: Mengupas Keterlibatan Maruarar di BOLA hingga Trenggono di Sektor Emas

6 Maret 2026 - 15:44 WIB

Langkah Diplomasi Prabowo: Pakistan dan UEA Beri Sinyal Positif untuk Mediasi Konflik Iran

6 Maret 2026 - 15:38 WIB

Trending di Internasional