JAKARTA | Harian Merdeka
Peristiwa tewasnya pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, yang dilindas mobil Rantis, hingga mengakibatkan kericuhan aksi unjuk rasa pada sejumlah daerah di Indonesia, menimbulkan keprihatinan banyak kalangan, termasuk sejumlah warga dan diaspora Indonesia yang tinggal di luar negeri.
Melihat kondisi itu, para Warga Negara Indonesia (WNI) di luar negeri yang menamakan dirinya Perhimpunan Masyarakat Indonesia di Jerman, turut menyuarakan aspirasinya dengan melakukan aksi unjuk rasa di depan Brandenburger Tor atau Gerbang Brandenburg, yang menjadi ikon Kota Berlin, Jerman, pada Minggu (31/8).
Aksi yang dimulai sekira pukul 11.00 waktu setempat diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesai Raya. Mereka bernyanyi bersama dengan penuh penghayatan dan rasa nasionalis.
Usai menyanyikan lagu kebangsaan, para pengunjuk rasa juga mengheningkan cipta seraya mendoakan wafatnya Affan Kuniawan, pengemudi ojol di Jakarta serta korban jiwa lainnya.
Seperti dilaporkan Andi Tinelung, Warta Eropa di Berlin, Jerman, para diaspora dan warga Indonesia di Berlin, sangat terpukul melihat kondisi di Indonesia.
Dalam aksinya, mereka berorasi secara berhantian dan melakukan teaktrikal tentang kekerasan aparat kepolisian terhadap korban Affan Kurniawan. Mereka juga membentangkan bendera Merah Putih dan One Piece.
Di antara mereka terbentang spanduk yang bertuliskan #INDONESIAGELAP, AFFAN MATI DIBUNUH POLISI, STOP POLICE BRUTALITY NOW!, SAY NO TO CORRUPT PARLIAMENTS! dan lain sebagainya.
Sama dengan tuntutan yang diajukan Jerome Polin, Cheryl Marella, Ahmad Balya, dan Salsa Erwina, warga Indonesia dan Diaspora di Berlin Jerman, juga menyuarakan 8 tuntutan, yaitu Pertama, Hentikan kebrutalan dan kekerasan yang dilakukan aparat keamanan terhadap para demonstran dengan dalih apapun.
Kedua, Hentikan kenaikan pajak yang semakin memberatkan rakyat, Ketiga, Buka ruang dialog dan kebebasan berekspresi seluas-luasnya. Keempat, Hentikan kenaikan gaji dan tunjangan bagi seluruh anggota DPR RI, Kelima, Negara harus bertanggungjawab untuk menjamin akses seluas-luasnya terhadap lapangan kerja bagi rakyat.
Tuntutan Keenam, Hukum pejabat yang korup dengan hukuman seberat-beratnya, Ketuju, Optimalkan pemungutan pajak dari para oligarki, Kedelapan, Bebaskan demonstran dan tahanan politik yang tidak bersalah.
Dalam aksinya, mereka juga menyanyikan sejumlah lagu-lagu nasional, seperti Syukur, Indonesia Pusaka, Ibu Pertiwi, Garuda Pancasila, dan Maju Tak Gentar. Aksi unjuk rasa berakhir sekitar pukul 13 waktu Jerman dan para demonstran langsung membubarkan diri.(AT)





