JAKARTA | Harian Merdeka
Pertumbuhan transaksi digital di Indonesia saat ini terus berkembang pesat, ditengah kebutuhan masyarakat yang terus meningkat.
Namun, dibalik meningkatnya pertumbuhan transaksi digital.Masih banyak persoalan yang harus di waspadai oleh masyarakat. Seperti terjadinya kejahatan Siber atau digital.
Pengamat ekonomi Universitas Trisakti, Willy Arafah menilai bahwa kecanggihan sistem enkripsi dan infrastruktur keamanan digital tidak akan pernah mencapai efektivitas maksimal tanpa keterlibatan aktif dari penggunanya.
“Hal ini disebabkan oleh posisi manusia sebagai mata rantai terlemah yang sering dieksploitasi melalui rekayasa sosial, di mana peretas lebih mengutamakan manipulasi psikologis daripada menembus proteksi teknis yang rumit,” kata Willy kepada Harian Merdeka, Senin (2/2/2026).
Willy menjelaskan bahwa kelalaian kecil, seperti pembocoran kode OTP atau penggunaan kata sandi yang lemah, seketika dapat melumpuhkan seluruh lapisan pertahanan yang ada.
*Dengan demikian, teknologi hanyalah instrumen pendukung, sementara kedisiplinan dan kewaspadaan individu tetap menjadi benteng pertahanan terakhir dalam menjamin keamanan setiap transaksi,” tegasnya.
Menurut Guru Besar Manajemen Universitas Trisakti ini peningkatan standar keamanan pada transaksi digital adalah keharusan mendesak guna memproteksi aset finansial sekaligus menjaga kredibilitas ekosistem keuangan.
” Di tengah ancaman siber yang kian kompleks, pembaruan proteksi teknologi harus dilakukan secara konsisten untuk mengantisipasi berbagai celah kerentanan,” ungkap Willy.
Kendati demikian, kata Willy, keamanan yang tangguh tidak hanya bersandar pada kecanggihan perangkat lunak, melainkan juga pada integrasi antara keandalan sistem dan literasi pengguna, sehingga tercipta ruang transaksi digital yang aman, stabil, dan tepercaya
“Pemerintah wajib menciptakan regulasi yang kuat dan memperkuat infrastruktur keamanan siber nasional untuk memitigasi berbagai risiko kejahatan digital,” bebernya.
Dia menambahkan, selain melakukan pengawasan ketat melalui otoritas terkait, pemerintah juga harus secara masif mendorong program literasi digital bagi masyarakat l, guna memastikan ekosistem transaksi tetap stabil, aman, dan tepercaya.
Pertumbuhan transaksi digital menjadi akselerator utama ekonomi nasional yang mendorong inklusi keuangan, mempercepat digitalisasi UMKM, serta meningkatkan efisiensi dan daya saing ekonomi Indonesia secara signifikan.
Resiko Transaksi Digital
Dia menyampaikan bahwa risiko utama dalam transaksi digital meliputi kejahatan siber (seperti phishing dan peretasan), penyalahgunaan data pribadi.
” Serta ancaman rekayasa sosial yang mengeksploitasi kelalaian pengguna untuk mencuri dana atau informasi sensitif,” tutupnya. (Agus)







