Menu

Mode Gelap
Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi Isra Miraj Jadi Momentum Pertobatan Ekoteologis, Menag Ajak Umat Berhenti Merusak Alam

Ekbis · 15 Des 2025 12:17 WIB ·

Ketergantungan Impor Susu Dinilai Tinggi, Komisi IV DPR Dorong Percepatan Swasembada


Ketergantungan Impor Susu Dinilai Tinggi, Komisi IV DPR Dorong Percepatan Swasembada Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Komisi IV DPR RI menyoroti masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku susu yang mencapai sekitar 80 persen dari kebutuhan nasional. Kondisi tersebut dinilai berpotensi melemahkan kedaulatan dan ketahanan pangan, khususnya pada sektor protein hewani.

Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi, mengatakan kebijakan ketahanan pangan seharusnya tidak hanya berfokus pada komoditas strategis seperti beras dan jagung. Menurutnya, susu memiliki peran penting sebagai sumber gizi masyarakat, namun belum mendapat perhatian optimal dalam kebijakan nasional.

“Ketergantungan impor bahan baku susu kita masih sangat tinggi, mencapai 80 persen. Ini menjadi persoalan serius karena susu adalah sumber protein strategis bagi masyarakat,” ujar Titiek Soeharto dalam keterangannya, Senin (15/12/2025).

Ia menambahkan, kondisi tersebut semakin diperberat dengan merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang berdampak pada penurunan populasi sapi perah di dalam negeri, sehingga mempersempit kemampuan produksi susu nasional.

Pernyataan itu disampaikan saat kunjungan kerja Komisi IV DPR RI ke peternakan PT Greenfields Indonesia di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (11/12/2025).

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto, mengungkapkan bahwa kontribusi industri persusuan dalam negeri terhadap pemenuhan kebutuhan nasional masih terbatas. Ia mencontohkan PT Greenfields Indonesia yang telah beroperasi sejak 1997, namun baru mampu memenuhi sekitar 14 persen kebutuhan susu nasional.

“Sebagian besar pasokan susu nasional masih berasal dari impor dalam bentuk susu bubuk atau bahan baku, bukan susu segar. Padahal, susu segar produksi dalam negeri memiliki nilai gizi yang lebih baik,” kata Panggah.

Ia menegaskan perlunya intervensi kebijakan yang terukur dan berkelanjutan guna menekan impor susu secara bertahap. Selain itu, Panggah menilai pemerintah perlu menciptakan iklim regulasi yang mendukung investasi dan pengembangan peternakan sapi perah di dalam negeri.

Ke depan, Komisi IV DPR RI menyatakan akan mengoptimalkan fungsi pengawasan terhadap kebijakan pemerintah di sektor peternakan dan persusuan. Evaluasi terhadap regulasi yang dinilai menghambat pertumbuhan industri nasional juga akan dilakukan sebagai bagian dari upaya mendorong kemandirian dan swasembada susu nasional.(Fj)

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Ekonomi RI Terancam, Airlangga Hartarto Pantau Potensi Kenaikan BBM Akibat Perang di Timur Tengah

2 Maret 2026 - 15:10 WIB

Dana Makan Bergizi Gratis Masuk APBN, DPR Ingatkan Pemerintah Jaga Transparansi Distribusi

2 Maret 2026 - 15:02 WIB

Reses di Probolinggo, Ketua Komisi XI DPR Paparkan Strategi Ekonomi Desa lewat KDMP dan MBG

2 Maret 2026 - 14:59 WIB

MUI: Indonesia Harus Keluar dari Board of Peace Sebagai Bentuk Protes Atas Agresi ke Iran

2 Maret 2026 - 14:50 WIB

Momen Hangat Puan Maharani dan Try Sutrisno: Sosok Senior yang Selalu Bersahaja

2 Maret 2026 - 14:40 WIB

Diversifikasi Pasokan: Indonesia Gandeng AS untuk Impor Energi, Tak Ada Penambahan Kuota

2 Maret 2026 - 14:37 WIB

Trending di Ekbis